syaamilquran.com – Sejarah Turunnya Al Qur’an – Sebenarnya, malaikat Jibril telah menyampaikan firman-firman Allah atau Al Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan beberapa cara. Berikut ini adalah beberapa cara turunnya Al Qur’an kepada Nabi Muhammad saw.
[caption id="attachment_2222" align="aligncenter" width="314"]
Sejarah Turunnya Al Qur’an[/caption]
- Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad saw tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Rasulullah tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.
- Suatu ketika, malaikat Jibril juga pernah menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi saw. Dan itulah salah satu metode lain yang digunakan malaikat Jibril untuk menyampaikan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad saw.
- Yang selanjutnya, wahyu juga turun kepada Nabi Muhammad saw seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Rasulullah, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai beliau mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim yang sangat dingin.
- Cara yang lain adalah malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad saw dengan menampakkan wujudnya yang asli.
Rasulullah saw senantiasa menghafalkan setiap wahyu yang ia terima. Beliau mampu mengulangi wahyu tersebut dengan tepat, sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh malaikat Jibril. Dalam hal ini, malaikat Jibril juga berperan untuk mengontrol hafalan Al Qur’an Rasulullah saw.
Nabi Muhammad saw menerima wahyunya yang pertama di sebuah gua benama Gua Hira. Gua tersebut terletak di pegunungan sekitar kota Mekah. Wahyu yang pertama kali beliau terima adalah lima ayat pertama surat Al ‘Alaq. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610), yaitu ketika Nabi Muhammad saw berusia 40 tahun.
Rasulullah saw menyampaikan Al Qur’an secara langsung kepada para sahabatnya–orang-orang Arab asli–sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Jika mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah saw. Al-Bukhari Muslim meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibn-Mas’ud.
”Ketika ayat ini turun (surat Al-An’am, ayat 82), yang artinya ’Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman’, para sahabat gelisah dan khawatir, kemudian bertanya pada Rasulullah: ”Ya, Rasulullah siapakah di antara kita yang tidak berbuat zalim pada dirinya sendiri?” Nabi menjawab: ”Kezaliman di sini tidak seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang saleh, ’Sesungguhnya kemusyrikan adalah benar-benar kezaliman yang besar’ (Luqman [13]:13). Jadi yang dimaksud kezaliman adalah kemusyrikan. Ini adalah salah satu cara menafsirkan ayat yang diajarkan oleh Rasulullah, yakni menafsirkan satu ayat dengan ayat yang lain.
Rasulullah saw juga pernah menafsirkan kepada para sahabat beberapa ayat, seperti disampaikan Muslim dari ’Uqbah bin Amir. Ia berkata:
”Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda di atas mimbar: ’Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi (Al-anfaal [8]: 60). Lalu bersabda, Ingatlah bahwa kekuatan yang dimaksud di sini adalah memanah.”
Inilah yang menjadi dasar salah satu ilmu tafsir ayat ditafsirkan dengan hadits. Para sahabat pada masa itu, sangat antusias untuk menerima Al Qur’an, menghafal, dan memahaminya. Amalan tersebut merupakan kehormatan bagi mereka. Dikatakan oleh Anas ra.: ”Seseorang di antara kami telah membaca dan menghafal surat al-Baqarah dan Ali Imran. Orang itu menjadi besar menurut pandangan kami.
Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman As-Sulami, ia mengatakan:
”Mereka yang membacakan Al Qur’an kepada kami, seperti Usman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud serta yang lain menceritakan bahwa mereka bila belajar dari Nabi saw SEPULUH AYAT, mereka tidak melanjutkannya lagi sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata: Kami mempelajari Al Qur’an berikut ilmu dan amalnya sekaligus.”
Dari riwayat-riwayat ini terlihat bahwa menghafal Al Qur’an dan mempelajarinya tidak akan efektif jika tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sebab Al Qur’an tidak akan memberikan manfaat optimal dalam meraih ridha-Nya jika ia hanya dihafal di tenggorokan saja.*** (syaamilquran/ sumber: 10 Bersaudara Bintang Al Quran, Arkanleema)
]]>