Syaamil Quran

Akhlak Qurani

1317798528_260873389_7-Al-Quran-Miracle-The-Reference-2130-Syaamil-syaamilquran.com – Nabi Muhammad Saw adalah manusia sempurna yang telah menjadikan diri beliau sebagai pribadi Qurani. Hal ini diketahui dari Aisyah radhiyallahu anha ketika sahabat bertanya tentang pribadi Rasulullah. Aisyah menjawab dengan singkat, “Beliau berkepribadian Qurani”.

Berdasarkan jawaban tersebut, para sahabat yakin dengan sepenuh hati, bahwa Rasulullah benar-benar manusia berakhlak mulia yang mendasarkan setiap ucapan dan perilakunya berdasarkan Al Quran yang agung.

Bahkan, Allah Swt sendiri menyatakan pujiannya akan akhlak  Rasulullah dalam salah satu ayat, “Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS Al Qalam [68]: 4).

Mulianya akhlak Rasulullah tersebut tercermin dalam kesehariannya, baik secara hablum minannas maupun hablum minallah. Dalam hubungannya dengan sesama manusia, Rasulullah sangat menyayangi keluarga, sahabat dan umatnya. Beliau tidak henti-hentinya mengingatkan mereka untuk selalu berbuat yang diridhai Allah. Kepada umatnya, beliau selalu berdoa agar mereka diselamatkan dari siksa api neraka. Bahkan saking sayang kepada umatnya, beliau meminta kepada Allah, agar bisa memberikan syafaat atau pertolongan pada hari akhir nanti. Allah menjelaskan:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keislaman dan keselamatan bagimu), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (At Taubah [9]: 128)

Dalam hubungannya dengan Allah pun, Rasulullah sangat menjaganya. Meski sudah dijamin masuk surga, tetapi, Rasulullah sangat tekun beribadah. Dalam suatu kisah diceritakan, Aisyah ra suatu hari mendapati suaminya, Rasulullah saw, beribadah hingga kakinya bengkak, matanya sembab dan pakaiannya basah karena keringat dan air mata.

Melihat itu, Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, bukahkah engkau telah dijamin masuk surga? Bukankah engkau juga dijamin terlepas dari dosa? Tapi, mengapa engkau beribadah sampai seperti ini?

Rasulullah membenarkan semua pertanyaan istrinya. Beliaupun menjawab,”Bukankah justru karena itu semua, saya harus menjadi hamba yang bersyukur (abdan syakuura).

Karena akhlak seperti itulah, beliau disebut wa innaka la’alaa khuluqin adhiim (berbudi pekerti yang agung)

Seorang muslim, yang juga ingin berakhlak Qurani, tentunya harus meneladani kebaikan-kebaikan yang dilakukan Rasulullah saw. dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akhlak berasal dari kata kha-la-qa, yang berarti mencipta atau penciptaan. Orang yang berakhlak adalah mereka yang menyadari arti penciptaan dirinya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Karena itu, yang pertama kali harus dilakukan oleh setiap orang yang ingin berakhlak sesuai tuntunan Al Quran adalah menyadari siapa diirnya, dari mana dirinya berasal, mau ke mana perjalanan hidupnya, dan untuk apa ia dihidupkan di dunia ini.

Berakhlak baik kepada Allah Swt merupakan hal pokok dalam konsep Al Quran. Beribadah hanya kepada-Nya merupakan ajaran akhlak paling utama dalam Islam. Itulah sebabnya, semua kebaikan menjadi tidak berarti sama sekali jika seseorang belum bertauhid.

Mewujudkan akhlak mulia, selain melalui ibadah vertikal, juga dapat dilakukan melalui ibadah horisontal berupa berbuat baik kepada sesama. Perilaku tersebut merupakan manifestasi tugas dan fungsi kita sebagai khalifah di muka bumi.

Bekal kita untuk berbuat baik terhadap sesama adalah melaksanakan amar ma’ruf (menyeru kepada kebenaran) dan nahyu ‘anil munkar (mencegah kemunkaran), yang harus dikembangkan dan berjalan secara simultan serta berkelanjutan untuk menjadi umat terbaik.

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imran [3]: 110)

Dengan  demikian, akhlak Qurani itu tidak sebatas berbuat baik dan menganjurkan kebaikan, juga menjaga kebaikan itu dari proses penghancuran. Itulah sebabnya, jihad dan qital (perang) termasuk akhlak Qurani. Seorang hamba yang membenci jihad dan qital berarti tidak berakhlak Qurani.

Selama ini orang-orang Islam sering mempersepsikan akhlak secara tidak tepat. Seolah-olah, akhlak itu hanya terkait kesabaran, ketundukkan, kelembutan dan kesopanan. Padahal keberanian, patrotisme, profesionalisme dan daya juang, merupakan bagian penting dari akhlak Qurani.

Rasulullah sebagai pribadi Qurani, selalu menularkan energi perubahan bagi para sahabatnya serta bagi manusia pada umumnya. Karena itu, jika hari ini, belum ada perubahan signifikan pada peradaban, bisa jadi salah satu penyebabnya adalah, kaum muslim belum banyak yang sungguh-sungguh menjadikan Al Quran sebagai kepribadian yang utuh.

Anda siap melakukan perubahan? *** (roni ramdan)

Sumber: Suara Hidayatullah, Agustus 2007

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *