Syaamil Quran

Allah tidak Melarang Kita menjadi Kaya

Apakah Allah Swt. melarang kita untuk mendapatkan keuntungan yang bersifat hitung-hitungan? Tentu tidak. Allah sangat memahami sifat dasar manusia yang ingin selalu untung. Itulah mengapa, Allah Swt. menjanjikan aneka pahala dari setiap amal ibadah sebagai pemantik motivasi, supaya ada insentif, supaya adrenalinnya naik. Sebagai contoh, shalat di Masjidil Haram pahalanya 10.000 kali shalat di masjid lain, doa pada sepertiga malam terakhir itu lebih cepat ijabah, shalat di shaf paling depan itu akan didoakan malaikat, dan sebagainya. Adanya berbagai keutamaan dalam suatu amal menunjukan “sikap pengertian” Allah terhadap kecenderungan manusia, yaitu ingin untung dan tidak mau rugi; ingin bahagia takut sengsara.

Memang benar, kita dituntut untuk menjadi kaya agar dapat saling berbagi dan memberi. Kita harus bekerja keras agar tidak menjadi beban dan parasit bagi orang lain. Namun, kalau kemudian kita terlalu mempertuhankan hasil, semuanya menjadi “tanggung” karena proses yang kita lakukan tidak sampai pada tujuan sebenarnya. Kalau sekadar kaya dan tidak masuk surga untuk apa! Yang terbaik adalah kaya di dunia sekaligus masuk surga. Akan tetapi, itu ada syaratnya. Kebahagiaan di akhirat itu harus diawali oleh banyaknya investasi kebahagiaan di dunia.

Ada contoh yang sangat baik dalam doa sapu jagat. Redaksinya menyebutkan fi dunya hasanah dahulu, kemudian fil akhirati hasanah. Logikanya, jika seseorang tidak bahagia di dunia, bagaimana mungkin ibadahnya akan khusyuk atau mau berbagi dengan sesama. Jika ketika sakit saja seorang nenek tidak ditunggui anak, menantu, dan cucunya, bagaimana mungkin ia bisa husnul khatimah. Yang ada hanyalah penyesalan, kecewa, dan gundah gulana. Padahal, semua perasaan itu adalah pintu masuknya setan.

Oleh karena itu, selain harus ikhlas, merendahkan diri serendah-rendahnya, tawadhu, dan memenuhi adab-adab berdoa, dan berikhtiar sesuai doa tersebut, ada semacam “skala prioritas” dari setiap doa yang kita panjatnya. Yang terbaik adalah doa-doa dari Al Qur’an dan Al Hadits, kemudian dari para sahabat, para ulama, dan orang-orang saleh, untuk kemudian doa yang bersifat khusus atau doa pribadi.

Tentu saja, ini bukan berarti kita tidak diperbolehkan untuk memohon hal-hal yang bersifat fisik materiil. Sangat diperbolehkan, bahkan dalam sebuah hadits disebutkan “berdoalah kepada Allah walau hanya menyangkut tali sandal jepit yang putus”.

Hal paling substansial bukan pada redaksi dari doa yang kita panjatkan, namun pada tujuan dari doa tersebut. Artinya, kepentingan akhirat atau hal-hal yang bersifat transendental harus menjadi acuan segala permintaan. Dunia bukan lagi orientasi tertinggi, hanya sekadar perantara untuk meraih kebahagiaan hakiki. Dengan demikian, doa kita pun tidak lagi terjebak dengan doa kapitalis yang sangat egois dan membatasi karunia Allah Swt.

Apabila hal ini sudah bisa kita lakukan, maka ketika Allah Swt. menunda ijabahnya doa atau menggantinya dengan hal yang lain, kita tidak menjadi kecewa. Sebab, kita yakin bahwa Allah Swt. tidak mungkin akan menyia-nyiakan permintaan hamba-hamba-Nya. Allah Swt. lebih tahu kebutuhan kita daripada kita sendiri. Allah Swt. pun lebih tahu apa yang terbaik bagi kita daripada analisis kita terhadap kebutuhan sendiri.

2_216

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah, 2: 216).

(dikutip dari Tauhid Nur Azhar & Sulaiman Abdurrahim. 114 Kisah Nyata Doa-Doa Terkabul. Arkanleema. 2009)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *