Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS Al-Baqarah 2:183)
syaamilquran.com – Apakah Niatmu Selama Ramadhan? (Bagian Kedua) – Saat datangnya bulan Ramadhan, apa yang Allah ingin sampaikan kepada kita tentang bulan Ramadhan? ‘La’allakum tataqoon’. Agar kita mengembangkan ketaqwaan kita. Taqwa adalah sadar kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja terhadap apa yang kita lakukan. Taqwa bukan hanya sekedar paksaan yang kita lakukan untuk pergi ke masjid sehingga kita berpikir, ‘Saya tidak akan meninggalkan masjid lagi. Saya akan berhenti dari pekerjaan saya, mengasingkan diri dari keluarga, dll.’ Itu bukan taqwa. Taqwa adalah saya hidup pada kehidupan saya… saya memiliki pekerjaan, pergi ke pasar, memiliki keluarga, teman, tetangga. Saya memiliki segala hal ini tetapi selain itu saya sadar dan berpikir apa yang hendak saya berikan dan kepada siapa saya melakukan hal-hal ini. Apakah hal-hal tersebut membawa saya lebih dekat kepada Allah? Atau semuanya membuat saya semakin jauh dari-Nya?
[caption id="attachment_3476" align="aligncenter" width="300"]
Apakah Niatmu Selama Ramadhan? (Bagian Kedua)[/caption]
Rasulullah SAW bersabda di dalam sebuah hadits qudsi bahwa Allah berfirman:… “—“ma taqarraba ilaya abdun bi shayin ahabu mima iftaradhtu alayhi” Tidak ada hal yang membuat seorang hamba semakin dekat kepada-Ku (kepada Allah) dan lebih dicintai Aku (Allah) daripada orang-orang yang sudah Kuberi kewajiban dan melaksanakannya. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan melaksanakan kewajiaban-Nya: sholat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadhan. Tetapi jika kita memperhatikannya, terdapat kelanjutan dari hadits qudsi tadi, Allah berfirman, “Wa innahu layataqarrabu ilaya binaafilati hataa uhibahu.” Allah berfirman, bahwa semakin mendekatlah kepada Allah dengan melaksanakan lebih daripada yang telah Allah wajibkan. Seperti melaksanakan amalan-amalan ekstra, dan sunnah. Saat seorang hamba mulai melakasnakan hal-hal lain dengan lebih demi mendapatkan kebaikan, seperti sedekah beberapa uang ke dalam kotak donasi di masjid, sholat dalam beberapa rakaat sesudah sholat fardu dilaksanakan. Mengambil Al-Qur’an and membacanya selama 5-10, 15 menit sebelum berangkat kerja. Berdzikir atau bertasbih karena Allah SWT, memberi makan orang yang berpuasa, dll.
Selama seseorang terus melaksanakan amalan-amalan tersebut, orang tersebut akan semakin dekat dan dicintai Allah, dan Allah berfirman, “Fa izha ahbabtuhu kuntu sam’ahu alazhee yasma’u bihi” Aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya. “Wa basarahu-lazhee yabsiru bihi” Aku menjadi matanya yang dengannya dia memandang. “Wa lisaanahu alazhee yantiqu bihi” Aku menjadi lisannya yang dengannya dia berbicara. “Wa yadahu alazhee yabthishu bihaa” dan menjadi tangannya yang dengannya dia memegang dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.
3 Langkah untuk Mendekatkan Hubungan dengan Allah di Ramadhan
- Allah memberitahu bahwa kita harus memahami tujuan dan sasaran dari Ramadhan. Ramadhan adalah sarana agar kita menjadi orang yang lebih baik, dan memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Jika hal tersebut saya luruskan baik di dalam hati dan di dalam kepala, niat saya akan menjadi benar dan saya akan mendekati Ramadhan dengan niat tersebut.
- Kewajiban adalah hal-hal yang tidak bisa ditawar. Kita tidak pernah meminta kelonggaran dalam beribadah, dan kita bukan orang yang meminta kelonggaran dalam beribadah. Ramadhan adalah untuk ketaqwaan. Ada dua kata yang harus Muslim pahami; taqwa dan fatwa. Fatwa adalah perintah. Jika kita ingin perintah apakah kita harus berpuasa atau tidak, kita bisa jadi mencari sesuatu untuk memberikan fatwa yang kita cari. Selalu ada kelonggaran dari fatwa-fatwa yang kita inginkan. Ramadhan bukanlah persoalan fatwa, tetapi taqwa. Kita harus berhenti untuk mencari kelonggaran. Ramadhan adalah keberkahan, yang merupakan sarana untuk mendekatkan diri dengan Allah ta’ala. 30 hari berpuasa tidak bisa ditaawr lagi. Sholat lima waktu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Menghindari dari hal-hal yang diharamkan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
- Proses ketiga adalah: Saya mencari kesempatan yang bisa saya dapatkan—bahkan dalam menit-menit tertentu—untuk melakukan kebaikan yang bisa saya laksanakan. Biasanya setiap kali makan siang kita melaksanakan makan siang, dalam bulan Ramadhan ini kita bisa menggantinya dengan hal-hal bermanfaat seperti tilawah dan menghapal Al-Qur’an. Biarkan lah Allah berbicara kepada kida dari ayat-ayat-Nya, dan biarkan kita mendapatkan makanan spiritual untuk diri kita sendiri. Ambil menit-menit tertentu untuk selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.