syaamilquran.com – Apakah Niatmu Selama Ramadhan? (Bagian Pertama) – Memiliki Perspektif yang Benar Soal Ramadhan
Ramadhan merupakan bulan yang berkah dan penuh rahmat dari Allah SWT, dan merupakan bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam. tetapi kita harus paham, kapanpun kita membicarakan tentang bulan Ramadhan—Ramadhan rupanya memiliki makna yang berbeda bagi sebagian orang—dan merupakan hal yang sangat penting untuk memahami Ramadhan seperti yang selalu diberitahukan Allah kepada kita. Dan penting untuk mendefinisikan bagaimana Ramadhan kita seperti yang didefinisikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Penting sekali untuk meninjau ulang makna, arti, dan pemahaman kita terhadap tujuan sebenarnya dan apakah peluang yang akan bisa kita dapatkan selama Ramadhan.
[caption id="attachment_3482" align="aligncenter" width="300"]
Apakah Niatmu Selama Ramadhan? (Bagian Pertama)[/caption]
Pentingnya Niat
Niat merupakan hal yang paling fundamental di dalam agama Islam; konsep niat. Sebuah niat harus dimiliki kapanpun kita hendak beramal. Niat merupakan nilai fundamental yang sangat tegas seperti yang telah diperintahkan oleh Allah SWT, dan sesuatu yang diberikan dengan instruksi yang jelas oleh Rasulullah SAW. Tentu saja, kita tahu hadist terkenal yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, yang merupakan hadits pertama yang disebutkan oleh Bukhari dan banyak perawi; bahwasanya Rasullah bersabda, “Innama al’amaalu biniyaat.” Banyak kesempatan setiap kali ada yang mengucapkan hadits ini, dan kita mencoba untuk mendiskusikan apa yang dimaksud dari hadits ini, apa pelajaran yang didapatkan dari hadits ini. Kita fokus terhadap amal yang merupakan aksi, dan juga niat. Tetapi hal yang paling mengagumkan dari hadits ini adalah keterhubungan antara aksi dan niat.
Nabi Muhammad SAW menghubungkan amal kita dengan niat dengan huruf hijaiyah ba. Huruf ba dalam bahasa Arab klasik, merupakan preposisi yang kuat dan sangat efektif. Biasanya digunakan untuk membedakan sebab dan akibat.
Salah satu arti dari huruf ba adalah bahwa ba berarti keterhubungan. Huruf ba menghubungkan antara satu hal dengan hal lain secara permanen, tidak dapat dipisahkan. Jadi pada saat Rasulullah SAW bersabda, “Innama al’amaalu biniyaat”, artinya adalah bahwa aksi pasti terhubung dengan niat. Kita tidak dapat memisahkan antara aksi dengan niat. Tidak peduli betapa luar biasanya niat seseorang, jika terdapat niat yang salah dalam melakukan sebuah aksi, aksi tersebut tidak dapat memiliki keuntungan untuk kita sendiri. Secara temporer, dalam perspektif materialisme, akan ada banyak manfaat dalam sebuah aksi, tetapi jika niatnya tidak teguh di balik aksi tersebut, aksi tersebut tidak akan bermanfaat buat kita sendiri. Hal ini merupakan hal yang ingin disampaikan Rasulullah SAW, saat Rasulullah bersabda soal bulan Ramadhan, “Akan ada orang yang berpuasa, tetapi dia tidak mendapatkan appun selain rasa lapar dan haus.”
Mengapa? Karena niatnya tidak ada di sana. Niatnya tidak ditempatkan secara benar. Niatnya tidak dirawat dengan baik. Bahkan dalam sesuatu yang sangat luar biasa seperti sholat, Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada orang-orang yang melaksanakan sholat (karena jika kita melaksanakan sholat, pahalanya akan diangkat ke langit dan dipersembahkan dan diterima oleh Allah SWT), di mana sholat mereka tidak akan pergi jauh dan hanya naik sebatas kepala mereka.” Sholatnya hanya berhenti sampai sana, dan kembali kepada mereka karena mereka kurang ikhlas pada saat pelaksanaannya, maka dari itu bersihkan niat saat kita hendak melaksanakan sebuah amalan. Banyak orang di dunia ini yang berdoa, tetapi jika niatnya tidak sesuai, akan aada doa-doa yang tidak terjawab dan dikembalikan agar kita memurnikan amalan kita. Jadi Rasulullah SAW benar-benar sangat menegaskan, kapanpun kita hendak melaksanakan sebuah aksi, niatnya harus selalu terhubung, tidak bisa terpisah.
Makna lain dari huruf ba, ba digunakan pada sababiyya. Dalam kasus tersebut, perposisi ba berarti aksi adalah hasil dari sebuah niat. Banyak dari kita memikirkan soal aksi, kita berpikir berdasarkan kapasitas fisik atau finansial, kecerdasan kita. Kita berpikir berdasarkan kapasitas seseorang, bahwa mereka dapat melaksanakan amalan baik, tetapi kita harus memahami bahwa, “Wa maa tawfiqiy illa biLlah.”
Rasulullah bersabda, “Kemampuanku dalam melakukan apapun hanyalah berasal dari Allah SWT.” Jadi, ada hal lain yang lebih penting daripada kemampuan fisik, intelektual, dan finansial… kesemuanya merupakan kemampuan yang diberikan Allah SWT untuk melaksanakan niat tersebut. Hal ini merupakan hal yang paling penting untuk dipahami. Ada banyak orang pada masa Rasulullah SAW yang memiliki kemampuan pandai berbicara, memiliki kemampuan finansial yang lebih baik, dan memiliki kemampuan fisik yang baik, lebih cerdas daripada Bilal, Suhaib, dan Ammar bin Yaasir. Ada banyak orang yang lebih berkualifikasi daripada orang-orang tersebut dalam perspektif duniawi, tetapi tidak di mata Allah. Di mata Allah dan dalam pandangan Allah, orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Akhnas bin Shuraykh dinilai oleh Allah tidak layak. Tetapi orang-orang seperti Bilal, Ammar, dan Suhaib, juga Salman dinaikan derajatnya hingga hari ini kita dapat menemukan nama-nama orang seperti Bilal, Suhaib, dan Ammar. Orang-orang ini diterima oleh Allah. Maka dari itu, sebuah amalan/aksi adalah hasil dari niat.
Jika niat kita adalah untuk meraih ridho Allah SWT, untuk melayani Allah, untuk mentaati Allah, maka Allah akan memberikan kita kemampuan untuk melakukan apapun di dunia ini bahkan saat kita berpikir tidak mampu melaksanakannya. Dan berbicara soal berpuasa pada bulan Ramadhan, ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepala setiap orang. Jika saya berpuasa pada tahun ini, saya akan berpuasa sebanyak 17 jam, dengan suhu sangat terik di luar, dan saya memiliki pekerjaan yang sulit dan menuntut, dan bekerja selama 60 jam setiap harinya, bisakah saya berpuasa? Atau pertanyaan seputar tarawih; saya paham bahwa tarawih merupakan sesuatu yang sangat penting, dan merupakan sunnah Rasulullah SAW, tetapi waktu sholat Isya saya adalah jam 10:30 PM. Bisa kah kita melaksanakannya? Bisakah atau tidak bisakah? Yang seharusnya kita ingat adalah, bahwa jam dalam sehari tidak menjadi persoalan , dan kekuatan fisik juga energi kita pun tidak irelevan.
Satu-satunya hal yang paling relevan adalah; apakah Allah menganggap kita layak dan Dia akan memilih kita, menerima kita untuk beribadah dan berdiri hanya kepada-Nya, maka kita mampu melaksanakannya. Apakah ada yang terpikir bagaimana Bilal dapat tetap tegar saat disiksa? Apakah Abu Bakar mampu menjadi pemimpin setelah Rasulullah SAW? Pernahkan ada yang berpikir bahwa Abu Bakar mampu mengosongkan isi rumahnya hanya untuk memberikan semuanya dan mendonasikannya hanya karena Allah? Mereka mampu melaksanakannya karena niat mereka hanyalah mencari ridho Allah, dan Allah memberikan mereka kemampuan tersebut.
Niat yang Baik akan Membawa Pada Amalan yang Baik Pula
Salah satu ari dari huruf ba adalah pada kata baa-ul-isti’aana: pertolongan. Yang berarti bahwa aksi/amalan dibantu oleh niat. Kita barangkali melaksanakan amalan secara benar. Kita memulai Ramadhan; berpuasa setiap harinya, datang pada sholat tarawih, sholat lima kali sehari, mengisi waktu setengah jam untuk membaca Al-Qur’an setiap harinya. Kita mampu melaksanakannya! Bahkan kita mampu untuk bekerja. Kita mampu melaksanakan apa yang kita mampu lakukan! Tetapi setelah seminggu, dua minggu, tiga minggu… kita merasakan kelelahan dan aksi kita mengalami penurunan. Aksi/amalan akan dibantu oleh niat kita, maka dari itu para ulama berkata, “bagaimana caranya menjaga agar niat kita murni.” Orang-orang di masa lalu memahami bahwa jika niatnya teguh, amalan pun akan mengikut. Hal ini perlu sering dipikirkan. Seorang atlit yang hebat berkata bahwa sebuah permainan berasal dari 90% mental dan 10% kekuatan fisik. Semuanya berawal dari permainan mental.
Sama hal-nya dengan ulama di masa lalu, orang-orang terdahulu, orang-orang taat yang telah datang sebelum kita yang merupakan role model dan juga inspirasi, karena mereka mengabdikan hidup mereka semata untuk Allah SWT, dan mereka paham bahwa hanya ada prinsip yang sama yang bisa diaplikasikan. Segalanya berasal dari hati kita. Bukan berasal dari pemikiran, tetapi hati. Orang-orang tersebut paham bahwa jika seseorang merasakan, ‘Sudah. Saya lelah, saya tidak bisa melaksanakannya.’, pada saat itu lah saat yang tepat kita harus terus menjaga bahwa niat kita kuat dan murni—jika niat kita kuat dan murni, amalan kita akan mengikutinya.
Bagaimana Menjaga Niat Kita agar Tetap kuat?
- Sebelum kita melaksanakan sebuah amalan, kita harus terus mengecek niat kita. Kita membutuhkan renungan personal. Kita butuh beberapa waktu untuk sendirian. Matikan telepon, matikan televisi. Tutup laptop. Ambil jarak dengan yang lain. Pergi dan temukan tempat yang sepi, carilah momen untuk menyendiri, dan pikirkanlah, ‘Apa yang ingin aku dapatkan pada Ramadhan ini? Apa yang ingin aku capai? Apakah makna Ramadhan ini untuk saya? Apakah harapan yang saya inginkan jika Ramadhan berakhir? Dan pikirkan semuanya terus menerus sampai kita mencapai dan menemukan niat kita, dan kita akan merasa yakin pada apa yang akan kita capai pada Ramadhan.
- Kedua, jika kita tengah melaksanakan sebuah amalan, pada saat kita beramal di tengah-tengah, berhentilah sejenak. Ambil waktu sejenak, duduk dan tinjau kembali niatan kita. Tanyakan diri kita, mengapa kita melaksanakan ini? Karena jika kita sudah mulai memulai, kita akan mulai kehilangan pandangan terhadap tujuannya. Kita mulai menghitung hari-hari saja. 10 hari terakhir Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk beribadah, dan merupakan kesempatan terbaik untuk beribadah, tetapi baik saya maupun Anda mungkin akan mulai menganggap 10 hari terakhir untuk mempersiapkan Lebaran. Maka dari itu, penting untuk meninjau kembali niatan kita, atur prioritas, dan pahami mengapa kita melakukan ini dan melakukannya sekarang.
- Langkah ketiga adalah proses terakhir saat amalan yang kita laksanakan telah selesai—dan ya, yang kita lakukan adalah merayakannya… Tetapi pada saat yang sama, penting untuk mengambil waktu beberapa saat untuk mulai merenungkan semuanya. Pada kesempatan ini, sebaiknya ucapkan istighfar dan sadari kesalahan demi kesalahan yang kita lakukan selama proses berlangsung.
Dan para ulama mengatakan, selama seseorang bisa mengingat tiga langkah ini setiap kali hendak melaksanakan sebuah amalan, maka amalan itu akan diterima. Amalan tersebut akan diberkahi. Amalan tersebut seperti halnya buah yang hendak dipanen. Amalan tersebut akan berguna untuk kita.
(diterjemahkan dari artikel http://muslimmatters.org/2014/06/25/what-are-your-intentions-for-ramadan/)
]]>