syaamilquran.com – Apapun Kebajikan Kita Ciptakan Sebanyak Mungkin Pengali – Tidak ada kata puas pada kebajikan. Tidak ada istilah qana’ah dalam ibadah dan amal shalih. Tidak ada sebutan cukup untuk hal yang makruf. Karena kebajikan, ibadah, amal shalih, dan segala hal makruf yang kita lakukan, tidak memiliki batas dan tidak terukir. Tidak pula akan cukup bagi alat tukar bagi surga-Nya Allah swt, jika itu yang menjadi tujuannya, seberapa pun banyaknya.
[caption id="attachment_3703" align="aligncenter" width="428"]
Apapun Kebajikan Kita Ciptakan Sebanyak Mungkin Pengali[/caption]
Maka menciptakan banyak pengali dan pelipatgandaan untuk segala jenis kebajikan, adalah tuntutan. Karena dari situlah kita akan menemukan keamantapan. Dari situ pula akan mengucur rahmat dan keberkahan dari AllAH swt, yang akan menjadi kunci kebahagiaan dan keselamatan kita, pada kehidupan mana pun kita berada.
Diri Kita Tidak Boleh Dikecilkan Sebatas Pekerjaan, Maka Temukan Banyak Pengali di Sekelilingnya
Setiap muslim itu mulia dengan amal-amalannya. Setiap mukmin itu besar dengan ibadah-ibadahnya. Orang-orang islam yang beriman terhormat dengan pekerjaan-pekerjaannya, sekecil apapun itu, sepanjang tidak menyalahi islam dan imannya. Dia tetap mulia dan di muliakan, dan akan terus bertambah mulia jika ia senantiasa bekerja dengan penuh kesungguhan di posisi manapun ia berada. Karena Allah menyaksikan setiap jiwa dengan apa yang di kerjakannya, menghitung yang kecil dan yang besar, yang sedikit dan yang banyak, meskipun tersembunyi.
Maka sebagai muslim, kita tidak boleh merasa kecil dan tak berdaya, oleh karena pekerjaan atau keadaan yang seperti tak memberi kita peluang untuk menjadi besar, untuk menciptakan pengali sini, Syaikh Murtadha Al Yamani memberi penekanan, “Sungguh kebenaran ituakan selalu terjaga, bertambah agung dan mulia,yang tidak di capai dengan keraguan dan kebimbangan dalam mencarinya, serta selalu bersemangat dan memperlihatkan kerinduan pada sebabnya.”
Maka capailah kebesaran kita dimanapun kita berada. Lakukanlah banyak pengali karena sesungguhnya kita semua besar. Emha Ainun Najib pernah menulis, “kebanyakan orang kecil adalah orang besar. Mereka bukan hanya berhati tabah, bermental baja dan berperasaan terlalu sabar, tetapi berkemampuan hidup yang luar biasa. Mereka sanggup dan rela berjualan beberapa botol air untuk penghidupan primernya. Kita pasti juga sanggup berjualan seperti itu, tapi tidak rela. Orang kecil mampu menjadi kenek angkutan, menjadi satpam, menjadi tukang parkir atau pembantu rumah tangga seumur hidup. Mereka iklhlas untuk tidak terlalu memikirkan harapan dan masa depan. Sementara kita selalu memamerkan harapan dan masa depan yang kita pidatokan seakan-akan berlaku untuk mereka, padahal hanya berlaku untuk kita. Mereka adalah orang-orang besar yang berjiwa besar. Mereka senantiasa siap melaksanakan perintah kita dan menyesuaikan segala perilakunya dengan kehendak kita. Kita inilah yang sebenarnya orang kecil. Kita hanya ikhlas kalau kita kaya, sukses dan berkuasa. Kita hanya sanggup menjadi pembesar. Kita hanya sanggup memerintah dan menggantungkan diri kepada orang yang kita perintah.”
Banyak orang yang telah membuktkan itu, bahwa dirinya dalam segala keterbatasan tetap mampu menciptakan pengali yang menjadikannya besar dan dikagumi. Houtman Zainal Arifin, mantan Vice President Citibank yang baru saja meninggal akhir tahun lalu, adalah inspirasi yang layak untuk selalu dikenang.
Lelaki yang hanya lulusan SMA itu, mengawali pekerjaanya dari berdagang asongan di jalan-jalan raya Jakarta. Lalu melamar di Citibank dan diterima sebagai Office Boy (OB). Jabatan tersebut diterimanya dengan sebuah cita-cita yang tinggi untuk menciptakan pengali.
Sebagai OB Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjannya dengan baik. Selepas sore, saat pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah-istilah bank yang rumit, sampai akhirnya sedikit demi sedikit mengerti akan istilah-istilah itu. Houtman juga belajar mengoprasikan mesin photo copy di kantornya, yang saat itu masih terbilang alat yang langka. Ketika petugas photo copy berhalangan, ia pun di angkat menggantikannya. Maka saat itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB menjadi tukang photo copy
Menjadi tukang photo copy merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Dia terus belajar dari staf-staf kantor dengan cara membantunya secara suka rela. Hasilnya, houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Sembilan belas tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai OB dengan jabatan tertingginya; Vice President untuk Citibank Indonesia.
Yang Kita Tahu Mengkin Sedikit, Maka Temukan Pengali Di Hamparan Ilmu Yang Seluas Langit Dan Bumi
Pengetahuan kita pestilah terbatas. Dan boleh jadi seadanya. Kalau pun kita disebut berilmu, mungkin tidak lebih untuk bagian tertentu dari satu bidang pengetahuan saja. Tidak seperti ulama terdahulu yang menguasai banyak ilmu, dari berbagai bidang. Padahal tantangan zaman yang setiap saat terus berkembang, mengharuskan kita menciptakan pengali yang lebih kuat terhadap pengetahuan. Ya, karena pengetahuan kita yang tidak beranjak dariwaktu ke waktu, tentu akan membuat kita tergilas, atau setidaknya akan tertinggal jauh.
Kebiasaan para ulama yang kita kenal dengan keluasan ilmu mereka, begitu bersemangat menciptakan pengali terhadap pengetahuan yang mereka miliki. Mereka tidak puas dengan satu ilmu yang mereka tahu, tapi terus membaca dan membaca, terhadap segala macam pengetahuan. Bahkan bacaan mereka membentang seluas langit dan bumi. Dan kepada mereka, tentu kita harus selalu bekaca. Karena cara mereka menciptakan pengalitelah menciptakan kontribusi yang tak terhingga untuk kemajuan dunia ini.
Dari cara mereka membaca mungkin kita dapat meniru. Al Izz bin Abdussalam, misalnya, membacakan shahih Muslim kepada gurunya dalam waktu enam hari.
Ibnu Taimiyahjuga memiliki semangat membaca yang luar biasa. Ia membaca Al Ghailaniyat, sebuah karya dari Abu Thalib Muhammad bin Ghailan yang terdiri dari sebelas jilid, dalam satu majelis. Ibnu Thamiyah memang dikenal sebagai seseorang yang mencintai ilmu, dan selalu berusaha menambah kadar pengetahuannya.
Ibnu Hajar Al Asqalani juga mempunyai kemampuan membaca yang mengagumkan, yang menunjukan besarnya semangatnya dalam memperoleh ilmu. Seorang temannya, Taqiyuddin Al Fasi, mengatakan bahwa bacaan Ibnu Hajar memang cepat dan bagus. As Sakhawi bahkan menyamakannya dengan bacaan Al Khatib yang membaca Shahih Muslim hanya dalam tiga majelis (pertemuan).
Dalam sebuah bukunya, Al Majma’ Al Muassis, Ibnu Hajar menceritakan tentang gurunya yang sangat kuat mendengarkan bacaannya, Abdullah bin Umar Abdul Ma’ali. Ibnu Hajar berkata, “ia adalah orang yang sangat sabar mendengarkan hadist dibacakan, tidak bosan, tidak mengantuk, dan tidak berkeluh kesah. Aku membaca musnad imam Ahmad kepadanya, seluruhnya dengan segala tambahan-tambahannya. Aku sempurnakan bacaanku untuk musnad itu seluruhnya dalam 53 majelis (pertemuan).”
Dan untuk Shahih Bukhari, ia hanya membacanya dalam sepuluh kali pertemuan. As Sakhawi mwngatakan, ”Di antara kitab kitab besar yang dibacanya dalam waktu yang singkat adalah “Shahih Bukhari”. Dia menyampaikannya kepada jamaah dengan lafaznya sendiri dalam sepuluh kali pertemuan, dan setiap pertemuan terdiri dari empat jam.”
Semangat mereka tidak hanya dalam membaca, tapi mengulang-ngulang bacaan itu dan mengarjarkannya. Dan itu menunjukan kesabaran mereka dalam menciptakan pengali pada ilmu mereka, dengan mengajarkannya kepada orang banyak. Adalah Umar bin Abdurrahim Asy Syafi’i mengajarkan kitab Al Muhadzab kepada muridnya sebanyak 25 kali. Imam Abdul Ghafir Al Farisi membacakan Shahih muslim sebanyak 60 kali, Al Hafiz As Samarqandi mendengarkannya sebanyak 30 kali, dan Ali Bahiri membacakannya sebanyak 20 kali.
Itu semua; membaca, mendengarkan, dan mengajarkan secara berulang-ulang adalah usaha untuk menciptakan pengali dalam pengetahuan mereka, sehingga pengetahuan mereka luas membantang, dalam karya dan dalam dada para murid-muridnya.
Seberapapun Yang Kita Punya, Kita Tetap Bisa Ciptakan Pengali Yang Lebih Banyak
Dalam soal pelipatgandaan, tidak ada kata miskin dan kaya. Setiap kita melakukannya dan pasti bisa melakukannya, sebab setiap pasti kita punya potensinya masing-masing. Tak memiliki materi bukanlah halangan, tak punya punya kedudukan bukanlah hambatan. Maka seberapapun yang kita punya, kita harus ciptakan banyak pengali di luar sana, karena itu adalah sebuah tuntutan hidup, apalagi dalam perkara memaksimalkan sisi keberagaman kita.
Itulah sebabnya, dalam agama ini tidak ada klasifikasi manusia dalam soal materi, warna kulit, jabatan, ataupun kedudukan. Semua sama di mata Allah. Aemua diperintah melakukan yang terbaik, yang paling maksimal. Maka yang terbaik diantara mereka adalah yang mampu melakukan banyak pengali. Yang terhebat adalah yang yang palingbanyak melipatgandakan manfaat, tanpa melihat kemampuannya dalam sisi materi. Sebab sesungguhnya besarnya pahala akan di sesuaikan dengan kebajikan itu dilakukan. Dan disitulah letak keadilan Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Dalam soal materi, mungkin kita menilai, bahwa orang kaya yangsedekah seratus juta rupiah, misalnya, adalah sebuah pengali amal yang pahalanya tak pernah bisa di samai oleh orang yang tak punya, yang hanya berinfak sepuluh ribu rupiah dari uang yang ia punya.
Dalam hitungan kasat mata barangkali penilaian itu benar. Tapi dalam hitungan Allah bisa jadi berbeda. Orang kaya yang bersedekah seratus juta, boleh jadi dia memiliki uang puluhan bahkan ratusan miliyar, sehingga meskipun yang dikeluarkan terlihatbegitu besar tapi itu bukanlah sesuatu yang berat baginya. Sementara si miskin yang bersedekah sebesar sepuluh ribu rupiah boleh jadi dia hanya punya seratus ribu rupiah, sehingga kerelaannya mengeluarkan sepuluh persen dari hartamemiliki tingkat kesulitan yang lebih berat dari si orang kaya. Karena perbedaan itu, dalam hitungan agama tentu orang kedua berhasil melakukan pengali yang lebih besar daripada orang pertama. Sebab itu,berinfak atau bersedekah tidak mengenal rumus kaya dan mampu. Siapa pun bisa dan harus melakukannya, seberapa pun yang dia punya.
Yang Wajib Itu Terbatas, Maka Temukan Pengali Dalam Amal-amalan Sunah
Tujuan penciptaan kita untuk mengabdi, tentu memberi penegasan bahwa intensitas penegasan ibadah kitaseharusnya melampaui apapun dari segala aktivitas kita dalam kehidupa ini. Namun kenyataannya, volume ibadah yang di wajibkan kepada kita tidaklah banyak. Bahkan mungkin bisa dikata sangat terbatas, jika dibanding keluasan yang kita terima.
Shalat fardu yang menjadi pondasi utama keislaman kita, misalnya, hanya ada lima waktu, yang akumulasinya barangkali tidak lebih dari setengah jam dari dua puluh empat jam masa hidup kitasehari semalam. Puasa hanya ada 30 hari dalam setahun kisaran 360 hari yang kita punya. Zakat , hanya 2,5% dari harta yang kita punya. Itupun kalau kadarnya mencapai hitungan syara’.
Begitu pun dengan kewajiban-kewajiban kita yang lain, volumenya sangatlah sedikit. Maka kenyataan ini memberi kita isyarat, bahwa di luar kewajiban tersebut kita harus pandai memperbanyak pengali. Tidak diam dan lalu merasa cukup dengan apa yang telah kita lakukan dari kewajiban-kewajiban itu.
Kewajiban yang terbatas itu, memiliki sifat yang permanen; tak dapat ditambah, seperti juga tak dapat dikurangi. Padahal belum tentu kita semprna menunaikannya. Karena itulah, di luarnya kita harus menciptakan banyak pengali agar tumbuh kesempurnaaan. Dalam sebuah hadis qudsi, misalnya, Allah swt berfirman kepada para malaikat-Nya, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku.” Jika mereka mendapatinya ada sesuatu kekurangan, Allah berfirman, “Lihatlah, apakah kalian mendapatkan hambaku (shalat) tathawu’ (sunnah)?” shalatnya lalu di sempurnakan dari shalat sunnahnya, kemudian amal-amal itu sesuai kadarnya.”
Para salafusalih memahami perintah Allah untuk lebih dekat kepada-Nya, maka mereka merenungi hakekat dunia dan perjalanannya menuju akhirat. Dari situlah kemudian mereka membuat jarak antara lambungnya dan tempat tidurnya, dan memuaskan hati mereka dengan kelezatan ibadah dalam hal-hal yang sunnah. Semangat mereka meninggi untuk melakukan pelipatgandaan amal. Sebab itu tiada malam bagi mereka kecuali berpuasa, dan lisan mereka selalu basah dengan dzikir, istigfhar, serta tilawah Al Qur’an.
Mereka bergiat melakukan pelipatgandaan, saling berlomba dan tidak ingin dikalahkanoleh yang lain. Maka terekam ucapan dari lisan Hasan Al Bashri yang menunjukan semangat itu, “Siapa yang melampauimu dalam soal agama maka lampauilah, dan siapa melampauimu dalam soal dunia maka lemparlah dunia itu ke samudranya.”
Sehingga kita mendapati dalam sejarah hidup mereka, penuh dengan pelipatgandaan amal, meskipun dalam kesibukan yang sangat padat. Fathimah binti Abdul Malik, istri Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra berkata, “aku tidak melihat seseorang yang lebih banyak shalatnya dan puasanya darinya (Umar). Dan tidak ada seorang pun yang lebih takut kepada Allah dari-Nya.”
Abu Muslim Al Khulani menggantung sebuah cambuk di rumahnya untuk menakut-nakuti dirinya. Ia sering berkata kepada dirinya. “Bangkitlah (untuk shalat)! Demi Allah, aku mencambukmu hingga kelelahan itu datang darimu, bukan dariku.”
Al Qarafi berkata, “Syaikh Taqiyuddin mendirikan shalat malam selama 40 tahun dan tidak tidur kecuali kalau ia telah shalat subuh ia berbaring sesaat hingga waktu dhuha datang.”
Itulah kisah pelipatgandaan yang mereka lakukan.
Lakukan Saja, Kebajikan Selalu Memiliki Magnet Bagi Banyak Orang
Sebuah kebajikan akan kokoh dengan pengali yang selalu menyertai. Maka itu, ia menjadi penting untuk setiap kebajikan yang kita punya. Ia perlu untuk selalu harus di perbanyak agar mengantarkan kebajikan kita kedepan pintu kesempurnaan.
Namun satu hal yang selalu harus kita ingat, bahwa pengali tercipta tidak semata karena kerja keras kita melipatgandakan kebajikan itu dengan cara yang serupa. Itu hanya satu cara. Cara lain yang mungkin kita sering abai, bahwa kebajikan itu melipatgandakan dirinya lewat orang lain, jika orang itu melakukannya karena motivasi dari kita yang lebih dulu merealisasikannya. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa melakukan suatu perbuatan sunah yang baik, maka baginya pahala dari perbuatannya itu, dan pahala bagi orang yang mengikuti perbuatan sunnah yang baik itu, hingga hari kiamat.” (HR. Muslim)
Dan ciptakan pengali dari cara ini tidaklah sulit, sebab kebajikan sendiri memiliki magnet sendiri pada fitrah manusia, sehingga mereka akan selalu terdorong untuk melakukan yang serupa. Ya karena manusia itu di ciptakan untuk mencintai yang makruf. Ia dibekali fitrah suci untuk selalu menyukai kebajikan. Maka yang terpenting adalah lakukanlah. Jangan sungkan. Jangan kecil hati. Sebab ketika kita tidak berbuat, maka tidak ada magnet yang menarik hati orang lain untuk turut melakukan kebajikan serupa.
Namun akan lebih baik dan efektif tentu, jika kita hanya berbuat tapi juga bergerak menjadi orang lain. Dengan begitu, pengali yang kita dapatkan pasti akan lebih berlipat ganda. Karena ibnu Qayim mengatakan, “Menyampaikan sunnah Rasulullah saw kepada umat lebih utama dari melepaskan anak panah ke leher-leher musuh Allah, karena melepaskan panah banyak orang bisa melakukannya, tapi menyampaikan sunah-sunah tidak di lakukan kecuali oleh para pewaris nabi, para pemimpin di kalangan mereka. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka dengan pertolongan dan kemuliaan-Nya.”
Hal itu pula yang di sampaikan Ibnu Jauizi. Ia berkata, “Bukankah engkau ingin dekat dengan-Nya? Sibukkan dirimu dengan menunjuki hamba-hamba-Nya, karena itulah profesi para nabi ‘alaihishalatuwassalam.Tidakkah engkau tahu mereka lebih mementingkan mengajar manusia daripada berkwalwat dalam ibadah. Itu karena tahu bahwa perbuatan itu memiliki pengaruh pada sisi kekasih (Allah) mereka.”
Lebih tegas Syaikh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid berkata, “Seorang dai tidak boleh bersedih hati karena tidak memiliki sisa waktu untuk melakukan qiyamullail setiap hari, atau untuk tilawah menghafalkan Al Quran. Karena apa saja yang dilakukannya untuk dakwah dan mengajar orang-orang serta mendidik pemuda-pemudanya lebih baik dan lebih besar pahalanya. Teladan dan figurnya dalam urusan ini adalah pemimpin dakwah dari para salafushalih yang senantiasa bertualang untuk menyebarkan dakwah dan menyampaikannya, menyapa orang-orang dengan ucapannya bersentuhan dengan mereka, dan tidak menunggu kedatangan mereka kepadanya untuk bertanya.”
Begitulah, menciptakan lebih banyak pengali pada kebajikan dan harus dilakukan. Oleh semua kita. Pada jenis kebajikan apa saja, dengan cara apa saja. Karena dengan pengali yang lebih besar. Lebih dekat pula kita Allah, kepada cinta dan kasih sayang-Nya…
(oleh Sulthan Hadi. Tarbawi. Edisi 290 Th. 14, Rabiul Awal 1434, 7 Februari 2013)
]]>