Sahabat Syaamil, selain sebagai sarana beribadah kepada Allah Swt, shalat juga ternyata memiliki manfaat secara psikologis. Sentot Haryanto, dalam Psikologi Shalat (2001), mengungkapkan bahwa shalat mengandung aspek-aspek psikologis yang mampu mengembangkan kesehatan mental. Aspek-aspek tersebut yaitu:
- Aspek olahraga: gerakan-gerakan shalat, mulai dari takbiratul ihram sampai salam memberikan efek positif bagi kesehatan jasmani dan rohani
- Aspek relaksasi otot: aspek ini dapat mengurangi kecemasan, mengurangi insomnia, mengurangi sifat hiperaktif pada anak dan mengurangi toleransi rasa sakit.
- Aspek relaksasi kesadaran indera: pada saat melaksanakan shalat, roh kita “terbang” menghadap Zat yang Mahatinggi tanpa perantara. Setiap bacaan dan gerakan senantiasa diayati dan dimengerti. Ingatan pun terfokus pada Allah semata.
- Aspek meditasi: shalat memiliki efek sepert meditasi, bahkan shalat adala meditasi tertinggi dengan efek luar biasa apabila dilakukan dengan benar dan khusyuk.
- Aspek autosugesti: shalat dapat membimbing diri melalui proses pengulangan doa-doa atau bacaan shalat yang menyatakan suatu keyakinan atau perbuatan positif
- Aspek penyaluran emosi (katarsis): shalat menjadi sarana penghubung atau sarana komunikasi antara seorang hamba dan Tuhannya. Saat itulah, dia dapat mengadu dan mengungkapkan isi hatinya kepada Allah secara langsung sehingga beban emosi dapat tersalurkan secara tepat
- Aspek pembentukan kepribadian: artinya, melalui shalat, seorang hamba akan memiliki kedisiplinan, cinta kebersihan, cinta persaudaraan, bertutur kata yang baik, dan bersungguh-sungguh dalam hidup.
Aspek terapi air (hydro therapy): sebelum shalat, seorang hamba harus berwudu. Wudu ini memiliki efek penyegaran (refreshing), mampu membersihkan badan dan jiwa, serta memulihkan tenaga.
(KH. Miftah Faridl. Ibadah Muslim Kosmopolitan. 2009)
]]>