syaamilquran.com – Beberapa penelitian ilmiah terkini pun menunjukkan, bahwa shalat memiliki segudang manfaat, khususnya dari sudut kesehatan fisik, mental, dan ruhani termasuk di dalamnya mengurangi stres dan depresi. Sentot Haryanto, dalam bukunya yang berjudul Psikologi Shalat (Pustaka Pelajar, 2001), mengungkapkan bahwa shalat mengandung aspek-aspek yang dapat mengembangkan mentalitas sehat. Aspek-aspek psikologis itu antara lain:
- Aspek olahraga. Bahwa gerakan-gerakan shalat, dari mulai takbiratul ihram sampai salam, mampu memberikan efek terhadap kesehatan jasmani dan ruhani.
- Aspek relaksasi otot. Relaksasi dipercaya dapat menghilangkan atau setidaknya mengurangi kecemasan, ketegangan, sulit tidur (insomnia), mengurangi hiper-aktivitas pada anak, mengurangi toleransi sakit, serta bisa membantu mengurangi keinginan merokok bagi mereka yang ingin berhenti merokok.
- Aspek relaksasi kesadaran indera. Ketika kita menunaikan shalat dengan khusyuk dan tuma’ninah, ruh kita seakan membumbung tinggi menembus batas-batas dimensi, meninggalkan dunia menuju kehadirat Zat Yang Mahatinggi. Dalam kondisi tersebut, panca indera kita akan terlepas dari ketegangan dari dalam dan tekanan dari luar.
- Aspek meditasi. Tidak berlebihan jika kita menyebut shalat sebagai meditasi tertinggi. Betapa tidak, efek yang ditimbulkannya melebihi praktik meditasi atau yoga, yaitu hadirnya ketenangan dan kedamaian dalam diri. Kondisi ini, tentunya dapat kita capai jika kita melakukannya dengan khusyuk dan penuh kesadaran.
- Aspek auto-sugesti. Shalat adalah sarana efektif untuk membimbing diri melalui proses pengulangan bacaan. Setiap pengulangan bacaan dan gerakan memberi efek psikologis yang dalam, sebentuk afirmasi dan proses internalisasian nilai-nilai kebaikan sehingga bisa tertanam di alam bawah sadar kita.
- Aspek pengakuan dan penyaluran emosi (katarsis). Sejatinya, ritual shalat adalah sebentuk komunikasi yang intens serta langsung antara hamba dengan Tuhannya. Ketika itu, seorang hamba bisa curhat, mengeluarkan semua isi hatinya, mengadu, mengiba, serta mendekat kepada-Nya. Akibatnya, beban masalah yang membuncah di dalam dada bisa dilepaskan.
- Aspek pembentukan kepribadian. Melalui shalat, manusia dilatih berlaku disiplin, taat asas, jujur, mencintai kebersihan, kedamaian, ketundukan, serta sikap-sikap mulia lainnya. Dengan menjalankan shalat secara istikamah, pribadi seorang Muslim bisa menjadi lebih baik.
- Aspek terapi air (hydro therapy). Siapa pun orangnya, sebelum shalat dia harus berwudu. Ternyata, wudu ini memiliki beragam manfaat, mulai efek penyegaran, membersihkan badan dan jiwa dari kotoran, hingga fungsi pemulihan tenaga.
Intinya, ketika seorang hamba menunaikan shalat dengan khusyuk serta tuma’ninah, dia berpeluang besar untuk mendapatkan pengalaman ruhani tertinggi (peak experience) serta bangkitnya kesadaran puncak. Allah Swt. Berfirman sebagai berikut.
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku..” (QS Thaha, 20: 14)
Dalam hierarki kesadaran, kemampuan mengenal dan mengingat Allah, yang berujung pada hadirnya kesadaran untuk senantiasa ditatap oleh-Nya, senantiasa didengar oleh-Nya, hingga merasa bersama-Nya di kala hening atau di kala ramai, adalah kesadaran tertinggi yang dimiliki seorang manusia. Inilah kesadaran yang mampu dicapai para nabi beserta orang-orang saleh. Agama kita menyebutnya sebagai ihsan. Ketika seseorang sudah sampai pada tahap kesadaran ini, niscaya hidupnya akan terarah, istikamah, serta penuh kedamaian. Sekali lagi, semua ini tidak akan pernah kita dapatkan secara optimal kecuali dengan menunaikan shalat. ***
Sumber: Sulaiman Abdurrahim. Agar Para Malaikat Berdoa Untukmu. Arkanleema. 2011.
]]>