syaamilquran.com – Dahulu di kalangan Bani Israil terdapat seseorang yang saleh. Suatu malam, ia bermimpi didatangi oleh seseorang yang mengatakan, ”Sesungguhnya, Allah Swt. telah menentukan umurmu sekian tahun. Setengah umurmu berada dalam kecukupan dan setengah umurmu yang lain engkau berada dalam keadaan serba kekurangan. Pilihlah untuk dirimu sendiri setengah umurmu yang pertama atau setengah umurmu yang kedua.”
Kemudian, orang saleh itu berkata kepadanya, ”Aku punya seorang istri yang saleh. Dialah pendamping hidupku.”
“Ajaklah dia bermusyawarah tentang masalah ini dan kembalilah kepadaku setelah itu, baru aku akan memberitahukannya kepadamu.”
Ketika pagi hari menjelang, orang saleh itu berkata kepada istrinya, ”Tadi malam aku bermimpi begini dan begitu.”
Istrinya pun berkata, ”Wahai suamiku, pilihlah setengah yang pertama, lalu cepat-cepatlah berdoa dan meminta ampunan kepada Allah. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu Allah akan merasa kasihan dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita.”
Pada malam berikutnya, dia bermimpi didatangi oleh seseorang yang berkata kepadanya ”Apa yang engkau pilih?”
Orang saleh itu menjawab, ”Aku memilih bagian yang pertama.”
”Itu semua untukmu,” jawab lelaki itu.
Tidak lama kemudian, orang saleh tersebut mendapatkan rezeki yang berlimpah ruah di mana-mana. Ketika itu istrinya mengatakan, ”Ingatlah keluargamu dan orang-orang yang sangat memerlukannya. Jalinlah tali silaturahim dengan mereka dan berbuatlah kebajikan kepada mereka. Begitu pula terhadap tetanggamu dan saudaramu. Berilah mereka bagian dari rezeki itu.”
Ketika setengah umurnya telah terlampaui, dia bermimpi didatangi oleh orang yang dilihatnya dalam mimpi yang lalu sambil mengatakan, ”Sesungguhnya, Allah Swt. mengucapkan terimakasih kepadamu, dan sebagai balasannya, engkau mendapat kesempurnaaan nikmat sampai akhir hayatmu seperti yang engkau dapatkan selama ini.”
Sejatinya, doa adalah salah satu kunci terpenting untuk membuka pintu-pintu pertolongan Allah. Ketika kita sudah mentok, tidak bisa berbuat apa-apa, pintu solusi seakan tertutup, dunia menjadi tampak gelap, kemungkinan untuk keluar dari masalah hampir mendekati mustahil, maka doalah jalan keluarnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah Ta’ala selain doa. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR At Tirmidzi)
Secara garis besar, takdir atau ketentuan Allah itu ada dua macam. Ada takdir yang tidak bisa berubah dan ada takdir yang bisa berubah atau diganti. Kita lahir di Bandung tanggal 17 Agustus 1970 dari keluarga petani misalnya, itu adalah takdir yang tidak bisa kita ubah atau kita ganti. Demikian pula dengan orangtua kita, jenis kelamin, warna kulit, tipe suara, jenis rambut, tinggi badan, suku bangsa, dan hal sejenisnya. Allah Swt. sudah menentukannya seperti itu dari sono-nya, kita tidak bisa protes atau mengubahnya.
Ada pula takdir atau ketetapan Allah yang bisa berubah atau bisa diganti, di sini seorang manusia memiliki kesempatan untuk “ikut campur” dalam mengusahakan takdir yang diinginkannya. Misalkan, Allah Swt. sudah menetapkan bahwa kita tidak akan lulus ujian pada tahun ini. Nah, kita masih bisa mengusahakan dan “mempengaruhi” Allah untuk mengganti takdir buruk ini dengan takdir yang lebih baik, yaitu lulus ujian dengan nilai terbaik, salah satu caranya adalah dengan belajar sungguh-sungguh sebagai jalan ikhtiar. Contoh lain, Allah Swt. menakdirkan bahwa pada tengah malam seseorang akan celaka atau terkena musibah. Ketentuan ini belum final karena ia bisa “mempengaruhi” ketentuan Allah ini dengan melakukan amal-amal yang dapat mencegah terjadinya hal tersebut, bahkan menggantinya dengan ketentuan yang lebih baik.
Kata Nabi saw., sebagaimana tercantum dalam HR Tirmidzi di atas, doa merupakan sarana paling tokcer untuk mengubah ketentuan Allah Swt. yang telah ditetapkan untuk manusia. Dengan doa, kita bisa berharap bahwa takdir yang Allah Swt. tentukan atas diri kita bisa berubah.
Tentu saja doa tidak bisa berdiri sendiri, harus ada “bahan bakar” yang bisa membuatnya “menyala”. Bahan bakarnya adalah tabungan amal kebaikan, kepasrahan, kerendahan hati, tobat, dan keyakinan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya penolong. Dengan bahan bakar semacam ini, doa akan sangat powerfull dalam membebaskan seorang hamba dari kesulitan.
Berbekal amal kebajikan yang pernah mereka lakukan, plus penyerahan diri yang total kepada Allah dan keyakinan yang mantap bahwa Allah-lah satu-satunya penolong, untuk kemudian terucapkan dalam doa, Allah Swt. berkenan menolong mereka sehingga bisa keluar dari dalam gua dengan selamat.
Dalam tarikh, kita pun bisa melihat bagaimana efek doa dalam menyelamatkan seorang hamba Allah dari kesulitan yang seakan tidak mungkin ada solusinya. Allah Swt. telah menakdirkan Nabi Yunus dilemparkan ke laut dan kemudian dimakan ikan paus. Selama tiga hari lamanya beliau berada dalam tiga kegelapan yang pekat: kegelapan perut ikan, kegelapan dalamnya lautan dan kegelapan malam hari. Dengan doa dan penyerahan yang total, Allah Swt. berkenan mengubah takdir tersebut dengan menyelamatkan Nabi Yunus dari tiga kegelapan itu. Bahkan, takdir Allah atas dirinya berubah, beliau diterima kembali oleh kaumnya dan tidak jadi dihapus dari daftar kenabian.
Allah Swt. pun telah menakdirkan Nabi Ya’kub kehilangan anak kesayangannya, yaitu Nabi Yusuf, bahkan kemudian beliau kehilangan penglihatan dan anaknya yang lain, Bunyamin (saudara terdekat Yusuf). Dengan doa, tak tanggung-tanggung 30 tahun lamanya, Allah Swt. berkenan mengganti takdir tersebut dengan takdir yang lebih baik, yaitu mempertemukannya kembali dengan kedua anaknya, mengembalikan penglihatannya, menghilangkan kesedihannya, dan menjadikan keluarganya berada dalam kebahagiaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kisah yang sama terjadi pula pada Nabi Adam dan nabi-nabi yang lain, dan tokoh-tokoh sejarah setelahnya.
Dengan demikian, kita dapat berkata bahwa takdir seorang manusia itu adalah “hasil interaksi antara dirinya dengan Allah Swt. Semakin baik interaksi kita dengan Allah, akan semakin baik pula takdir yang akan kita dapatkan. Maka, sudah selayaknya kita berdoa kepada Allah tanpa mengenal bosan agar: (1) Allah Swt. tidak mengganti takdir baik kita dengan takdir buruk, di antaranya dengan meminta keterjagaan diri dari dosa dan maksiat (sesungguhnya dosa dan kemaksiatan dapat mengubah nikmat jadi bencana); (2) Allah Swt. berkenan mengubah atau mengganti takdir buruk yang telah ditetapkan untuk kita dengan takdir yang lebih baik yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat; (3) Allah Swt. berkenan memberi kita kemampuan untuk ridha, bersabar, atau mensyukuri takdir yang telah Dia ditetapkan untuk kita, khususnya takdir yang tak bisa diubah, dan memberi kita kekuatan untuk beristighfar (bertobat) atas kesalahan kita dalam “memilih” takdir dari-Nya. ***
Sumber: Tauhid Nur Azhar & Sulaiman Abdurrahim. 114 Kisah Nyata Doa-Doa Terkabul. Arkanleema. 2009
]]>