Syaamil Quran

Bagaimana Kabar Rezekimu?

syaamilquran.com – Bagaimana kabar rezikimu? Pertanyaan tentang rezeki, bagi sebagian orang adalah pertanyaan selalu ada dalam benak. Berfikir secara terus menerus tentang rezeki yang harus diperolehnya untuk memenuhi kebutuhan. Menjadikan masalah rezeki selalu ada dalam pandangan mata. Menjadikan rezeki sebagai prioritas yang tak tergantikan oleh hal lain. Bahkan sebagian orang mengorbankan tuntunan memperoleh rezeki.

[caption id="attachment_3088" align="aligncenter" width="388"]Bagaimana Kabar Rezekimu? Bagaimana Kabar Rezekimu?[/caption]

Mari tak putus mengucap alhamdulillah, atas semua rezeki dan karunia yang sudah kita terima. Rezeki kita sudah di tentukan. Jatah rezeki yang Allah tetapkanakan terus mengalir hingga sempurna, tanpa kurang sedikitpun sepanjang hidup yang telah Allah tentukan. Itu salah satu bentuk kasih sayang Allah swt kepada kita. Kita tidak tahu pasti berapa besar, kapan dan ada dimana tempat rezeki kita, sedangkan di sisi lain rezeki kita takkan pernah salah takkan pernah keliru untuk tetap tersalur sepanjang kita hidup.

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan baguslah dalam meminta. Sebab satu jiwa takkan mati hingga terselesaikan jata rezekinya. Bila rezekinya datang terlambat, maka perbaguslah dalam meminta. Ambilah yang halal dan tinggalkan yang haram.” Demikian sabda Rasulullah dalam hadits riwayat Ibnu Majah. Dalam hadits lainnya, kekasih Allah swt itu menyebutkan, “Jika salah seorang dari kalian lari dari rezekinya, pasti rezeki itu akan terus mengejarnya sebagaimana kematian mengejarnya.” (HR. Abu Nuaim dishahihkan oleh Al Albani)

Perhatikanlah saudaraku, betapa Rasulullah saw itu jelas-jelas menerangkan fakta tentang rezeki yang telah ditetapkan akan terus mengejar orang yang berhak menerimanya. Itu sebabnya, orang shalih dahulu sangat memahami filosofi rezeki sebagaimana tuntunan Al Quran dan Rasulullah saw. Kata-kata mereka tentang rezeki menunjukan bahwa mereka memiliki keimanan yang begitu mendalam, sehingga tampak dalam pribadi, sikap dan perkataannya. Lihatlah perkataan yang kerap disampaikan di kalangan mereka, “Tawakkallah. Niscaya rezeki-rezekimu akan datangkepadamu tanpa letih dan penat.” (HR. Ibnu Abi Dunia)

Seorang shahih bernama Abi Assid ditanya, “Darimana engkau makan?” Dijawabnya, “Subhanallah, Allahu Akbar. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada seekor anjing. Bagaimana mungkin dia tak memberi rezeki kepada Abi Assid?” sebagian lain saat ditanya pertanyaan serupa menjawab, “Orang yang telah membuat penggilingan mendatangkan tepung untuk digiling. Yang menciptakan usus perut adalah Penciptanya Yang akan memberinya rezeki.” Hatim Al A’sham, menjawab pertanyaan serupa dengan jawaban berbeda lebih lugas. Ia menjawab, “Yang memberi makan adalah Allah swt.” Ketika ditanya lagi, “Apakah Allah swt menurunkan uang dari langit?” Hatim Al A’sham rahimahullah menjawab ringkas, “Apakah harta milik Allah itu hanya langit? Bumi ini milik-Nya. Bila langit belum memberiku rezeki, maka bumi yang akan datang memberi rezeki kepadaku. (Tafsir Qurthubi, 7/9)

Sederhana sekali mereka memahami rezeki. Sama sekali bukan mereka tidak bekerja dan menanti rezeki datang. Mereka adalah orang-orang yang ulet dalam bekerja. Namun mereka lakukan itu dengan jiwa damai, pikiran yang bersih. Tak terbelit dengan pikiran yang menghawatirkan berlebihan masalah rezeki hingga memunculkan keresahan tak berujung. Mereka tak terhalangi oleh ambisi duniawi yang selalu berharap lebih dalam urusan rezeki, hingga akibatnya mereka mengorbankan kepentingan ukhrawi yang harusnya diutamakan dalam memperoleh keinginan duniawi. Mereka sangat menyadari bahwa urusan rezeki adalah urusan Yang Menciptakan kehidupan ini dan Yang Membagikannya keseluruh ciptaan-Nya. Jika manusia ingin masuk memikirkan secara ekstra masalah rezeki, yang jelas bukan ada di dalam lingkup kemampuannya, maka manusia itu akan tetap tak sanggup memikirkannya. Itu sebabnya mereka tak terpengaruh akan ragam pertanyaan atau pemikiran aneh yang mungkin mengusik keyakinan mereka tentang rezeki.

Berbeda sekali dengan cara pandang sebagian orang. Menggap bahwa masalah rezeki adalah masalah yang justru harus dipikirkan dan menjadi prioritas, hingga mengalahkan pemikiran masalah apapun selainnya. Menganggap bahwa rezeki selalu ada di wilayah kekuasaan manusia. Bekerja keras identik dengan rezeki yang banyak. Tanpa kerja keras rezeki yang banyak takkan bisa di peroleh. Rezeki punya kaitan erat dengan keturunan, kepandaian, kedudukan dan sebagainya. Memandang rezeki yang pertama, dan utama, adalah meyakini bahwa rezeki adalah urusan Allah swt.

Rezeki manusia sudah ada ketetapannya, sedikit ataupun banyak. Dan rezeki akan terus menempel pada orang yang akan menerimannya, mengikuti kemanapun ia pergi, mengejarnya sebgaimana kematian mengejarnya. Hingga Imam Al Qurthubi rahimahullah mengisahkan peristiwa luar biasa yang mencerminkan kedalaman di samping kesederhanaan pandangan orang-orang shalih terhadap masalah rezeki. Ketika Yazid bin Martsib bercerita, ada seorang yang kelaparan di tempat tak ada sesuatupun untuk dimakan. Dengan penuh keyakinan orang itu mengatakan, “Ya Allah, rezeki Mu yang telah engkau janjikan untukku datangkanlah. Kemudian orang itu menjadi kenyang meski belum makan ataupun minum.” (Tafsir Qurthubi, 17/42)

Cara pandang kita terhadap rezeki adalah tolak ukur akidah. Dan karenanya, masalah rezeki ini menjadi pembeda yang begitu nyata antara kekufuran dan keimanan. Kekufuran yang sangat terpengaruh oleh rezeki, keimanan yang sangat kuat memandang rezeki sebagai wilayah Allah swt sebagai pencipta.

Bagaimana rezekimu? Tawakkal, beramal, dan alhamdulillah. (sumber: Tarbawi. Edisi 290 Th.14, 7 Februari 2013. Oleh Muhammad Lili Nur Aulia)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *