syaamilquran.com – Kekuatan Khusyu’ – Khusyu dan Rasa Kasih Sayang. Perhatikan ketika beberapa ilmuan melakukan survei terhadap otak dengan scan resonasi magnetik fungsional (FMRI), ternyata seseorang yang terbiasa meditasi, memiliki kemampuan lebih untuk mengendalikan perasaan mereka dan juga mengontrol emosi. Akibatnya, orang tersebut juga lebih bahagia ketimbang orang lain.
Bahkan melalui eksperimen lain membuktikan bahwa meditasi membantu manusia mengontrol seksual insting yang dimiliki pria taupun wanita. Meditasi juga membantu menata sisi sentimen kasih sayang manusia, menjadikannya tidak boros atau ceroboh mengambil keputusan. Itu kerena meditasi mengaktifkan daerah sensitif positif dengan menghilangkan akumulasi negatif yang memunculkan ketidak seimbangan terhadap bagian otak, akibat pristiwa yang dialami manusia.
[caption id="attachment_3388" align="aligncenter" width="300"]
Kekuatan Khusyu’[/caption]
Khusyu’ Bisa Mengatasi Penyakit Kronis
Ada lembaga khusus di barat yang menggunakan metode kontemplasi dan meditasi untuk mengobati pasien. Mereka mengatakan bahwa meditasi bisa mengatasi penyembuhan beberapa penyakit yang sulit diobati oleh dokter. Sekarang, metode seperti ini diminati banyak orang.
Setiap kali saya membaca dari apa yang dihasilkan dari lembaga-le,baga seperti itu, saya katakan: Subhanallah ternyata kita tekah mengenal lebih awal metode ini. Al-Qur’an telah menjadikan khusyu, perenungan, tafakur terhadap penciptaan Allah, sebagai ibadah yang begitu agung. Lihatlah bagaimana Allah memuji ibadah orang-orang bertakwa dalam firmannya:
“sesungguhnya salam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda dari orang yang berakal. (Yaitu) orang-oran yang mengingat Allah sabil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs.Ali Imran”:190-191)
Oleh karena itu saudarakau, jika anda menderita suatu penyakit kronis, duduklah dalam satu jam setiap hari untuk merenungi kemukjizatan Al-Qur’an terhadap alam semesta, dibanding kedokteran, gunugn-gunugn lautan, dan seisinya. Usahakanlah berfikir secara mendalam tentang ciptaan Allah swt di bawah naungan keagungan Al-Quranul Karim. Metode ini, akan mengobati dengan sendirinya berbagai penyakit yang anda derita. Jadi saya sarankan kepada anda, gunakanlah metode khusyu ini untuk membantu penyembuhan penyakit.
Khusyu dan Shalat
Al-Qur’an menegaskan peran pentingnya khusu dalam memelihara shalat. Kerena banyak umat islam yang tidak khusyu dalam shalatnya, meskipun mereka berupaya berunlang kali tapi mereka gagal untuk menjaga kekhusyuan dalam shalat. Karenanya, Allah swt berfirman:
“Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (Qs. Al Baqarah: 45)
Demikianlah, peran besar kekhusyuan dalam shalat sangat besar. Karena itu Al-Qur’an mengaitkan antara shalat dengan kekhusyuan. Dan yang mengagumkan, ketika Al-Quran mengaitkan dengan sabar dan kekhusyuan. Para lmuan sekarang benar-benar meyakini berdasarkan eksperimen yang mereka lakukan, bahwa kekhusyuan benar-benar bisa menambah kekuatan manusia untuk memikul beban dan besabar dalam menghadapi situasi sulit.
Ada beberapa ilmuan Amerika yang melakukan percobaan terhadap orang-orang yang beribadah, ternyata mereka menemukan ritual badah itu memiliki dampak signfikan terhadap gangguan jantung dan stabilitas otak. Dan sebenarnya, kita bahkan telah mendapatkan firman Allah yaitu:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.” (Qs. Al-Mukminun: 1-2)
Bagaimana Menerapkan Khusyu Dalam Kehidupan Kita Sehari-hari?
Ini adalah Al-Qur’an, ialah media yang baik untuk menerapkan kekhusyuan kepada Allah swt. Di sini, kita perbaiki yang berkembang, yang dikatakan bahwa khusyu dalam shalat saja, atau ketika membaca Al-Qur’an saja. Yang benar adalah, bahwa khusyu adalah metode yang diterapkan oleh orang beriman, setiap waktu, sebagaimana dilakukan oleh para Nabi Allah swt.
Perhatikanlah kehidupan para Anbiya alaihimussalam, yang penuh dengan kekhusyuan. Bahkan mereka selalu dalam keadaan khusyu. Inilah yang membantu mereka memikul beban berat dan kesabran atas rasa sakit, cacian dan lainya. Khusyu inilah salah satu sebab do’a mereka dikabulkan oleh Allah swt.
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam menjalankan perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepda kami.” (Qs. Al-Anbiya: 90)
Perhatikan firman Allah swt:
“Dan mereka adalah orang yang khusyu kepada kami.”
Ini artinya, mereka para Anbiya adalah orang-orang yang selalu dalam kondisi khusyu kepada Allah swt. Kita patut meniru mereka dalam menjalani hidup ini. Bagaimana caranya?
Seorang mukmin sejai adalah yang selalu menjaga kekhusyuannya dalam shalatnya. Dan ketika bersedekah, ia juga bertafakhur tentang sodaqah nya. Ketika mengunjungi orang sakit, ia berpikit tengtang pentingnya menengok orang sakit lalu meminta kepada Allah swt untuk dijauhkan dari penyakit. Ketika berinteraksi dengan manusia, saat bertransaksi jual beli misalnya, ia merasakan bahwa Allah swt memantau dan melihatnya sehingga ia tidak menipu dan berbohong. Ia menjadi manusia yang jujur agar dihimpun di hari kiamat bersama orang-orang yang jujur.
Ketika seorang mukmin terkena fitnah dan berada ditepi jurang yang diharamkan Allah melakukanya, ia akan mengingat bahwa Allah akan melihatnya dan tidak ridha dengan sikapnya. Lalu ia menjauh dari kemaksiatan ini karena Allah swt. Ketika itu ia merasakan nikmat dan manisnya keimanan.
Ketika seorang mukmin mendapat sikap yang tidak disukainya dari istri. Ia menyadari bahwa Allah swt memerintahkanya untuk bisa menggauli istrinya dengan baik. Ia tidak boleh menyakitinya. Dan bahwa Rasulullah saw selalu menasehatinya dengan baik. Ketika itulah, ia akan lebih sabar dan tidak melakukan sesuatu yang menyakitkan. Itulah khusyu.
Ketika seorang mukmin menderita suatu penyakit atau mengalami situasi sulit. Hal yang pertama dilakukannya adalah berdo’a dan berlindung kepada Allah swt. Ia mengetahui bahwa Allah swtlah yang memberi manfaat dan bahaya. Dialah yang Maha Kuasa dan memiliki kebaikan untuk menyembuhkan. Dialah yang memberi rizki karena dalam genggaman kuasanya seluruh kebaikan. Inilah kekhusyuan yang sejati.
Itu sebabnya, sebenarnya khusyu hasil dari amal shalih, do’a dan kesegeraan melakukan kebaikan. Jika anda ingin Allah memberikan nikmat kekhusyuan pada anda dan do’a anda dikabulkan sebagaimana do’a para Nabi dahulu, maka anda harus segera melakukan kebaikan. Jangan anda menunggu sampai anda diberikan harta yang banyak untuk bersedekah. Pergilh dan segeralah berinfaq. Lalu ingatlah firman Allah swt dengn mengulang-ngulanya setia hari:
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada kami dengan harap cemas. Dan mereka adalah orang yang khusyu kepada kami.” (Qs.Al-Anbiya: 90)
Barangkali setelah fakta-fakta ini, kita mengeahui mengapa Allah swt mewahyukan Nabinya Rasulullah Muhammad saw sebelum bit’sah, agar pergi ke Gua Hiro untuk menyendiri disana. Rasulullah lau merenung tentang penciptaan Allah swt, bertafakur tentang keagungan Sang Pencipta Allah swt. Karena fase ini sangat penting sekali untuk bisa memberikan kemampuan bersabar dan akan memikul beban yang akan dipikul dari memperjuangkan islam dimuka bumi.
Kitapun mengetahui mengapa para Nabi alaihimussalam adalah orang-orang yang sabbar. Itu karena mereka menerapkan ibadah kekhusyuan ini dalam segalla hal. Llah swt menyebutkan,
“Orang laki-laki yang khusyu dan orang-orang perempuan yang khusyu.”
Kelak di akhirat mereka mendapatkan ganjaran berupa kenikmatan yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dihati manusia. Di ujung ayat ini, Allah berfirman:
“Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al-Ahzab: 35)
(sumber Tarbawi, Edisi 209 Th.14, Rabiul Awal 1434, 7 Februari 2013.)
]]>