Syaamil Quran

Doa Memohon Perlindungan dari 4 Perkara

syaamilquran.com – Doa Memohon Perlindungan dari 4 Perkara – Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Zaid bin Alqam menarasikan bahwa Beliau pernah mendengar Rasulullah SAW memanjatkan doa sebagai berikut:

[caption id="attachment_3381" align="aligncenter" width="400"]19706294sholat tahajud Doa Memohon Perlindungan dari 4 Perkara[/caption]

Allahumma inni a’udhu bika min ‘ilmin la yanfa’u wa min qalbin la yakhsha’u wa min nafsin la tashba’u wa min da’watin la yustajabu laha

“Ya Allah, aku memohon perlindungan dari-Mu terhadap ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak merasa takut akan diri-Mu, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan dari doa-doa yang tidak terjawab.”

Analisis Perkata: 

Yanfa’u: Nafa’a berarti berguna atau bermanfaat. Dalam urusan ilmu pengetahuan, ilman nafi’an – ilmu yang bermanfaat – artinya adalah ilmu yang membawa kita pada amal-amal yang baik dan bermanfaat.

Yaksha’u: Khusu’ adalah ketakutan yang ditujukan tidak hanya pada hati saja, tetapi juga harus ditujukan kepada wajah dan anggota tubuh. Khushu’ secara literal berarti membungkuk dan membentuk kesadaran hanya pada Allah. Kata khushu’ biasanya digunakan untuk ketaatan hati yang juga direfleksikan dari ketaatan anggota tubuh.

Tashba’u: Akar dari kata ini berarti merasakan kepuasan, memakan apa yang sudah disajikan dan memberikan kepuasan. Kata-kata ini bisa diaplikasikan pada urusan makanan dan memenuhi keinginan kita. Kata-kata ini berasal dari kata ishbaa’ yang artinya kepuasan dan rasa kenyang.

Da’watin: da’wah secara literal berarti memanggil, meminta, atau doa. Jika seseorang terlibat dalam da’wah, secara literal maksudnya adalah mereka memanggil orang lain kepada Allah azza wa jal. Akar kata ini adalah du’a, keduanya memiliki arti yang sama.

Poin-Poin Doa:

Nabi Muhammad SAW mencari perlindungan dari empat malapetaka di dalam doa tersebut. Masing-masing memiliki pembelajaran sendiri-sendiri:

  1. “Ilmu yang tidak bermanfaat”: dapat berarti ilmu yang tidak diterapkan, atau ilmu yang tidak berguna – seperti hal-hal bersifat duniawi yang tidak memberikan manfaat apapun. Hal ini bisa membawa kita pada hukuman, Rasulullah SAW bersabda, “Pada malam aku diangkat ke langit, aku bertemu dengan orang-orang yang bibirnya dipotong oleh tang yang terbuat dari Api. Setiap kali bibirnya terbelah dulu, semuanya akan dikembalikan dalam keadaan normal kembali. Dan aku bertanya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang ini?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang banyak berkata-kata dari kaummu, mereka mengatakan sesuatu tetapi tidak diterapkan di dalam perbuatan, mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak berlaku sebagaimana yang tertera di dalamnya.” (HR Al Bayhaqi)
  2. “Hati yang tidak merasakan ketakutan.”: di dalam Al-Qura’n, Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang beriman selalu khusyuk dalam beribadah – dan kekhusyukannya dapat dilihat dari anggota tubuhnya. Jika hati terasa khusyuk, otomatis tubuh pun akan khusyuk. Khuysuk bukan hanya kondisi hati, tetapi juga kondisi hati yang bisa terlihat dalam kelakukan dan sifat seseorang, pada setiap pembawaan, dan juga pergerakan. Di akhirat, Allah berkata pada orang-orang kafir, “Pandangannya tunduk.” (An-Naziat 79:9). Mata-mata tersebut tidak tunduk kepada Allah pada saat mereka di dunia, dan akan merasakan ketakutan saat berada di akhirat. Ketakutan ini juga terlihat dari wajah-wajah mereka; wajah-wajah yang menahan malu, penghinaan, dan kehinaan.
  3. “Jiwa yang tidak merasa puas.”: sudah merupakan perilaku normal manusia yang selalu ingin lebih, maka dari itu kita harus melatih kita untuk menerima hal-hal sekecil apapun. Jika seseorang tidak merasa puas, mereka akan merasakan dengki, kecemburuan, tidak bersyukur, dan ketidakpuasan. Setiap orang beriman akan merasa bersyukur pada apa yang diberikan kepada mereka di dunia ini, dan di akhirat kelak, Allah SWT berfirman, “dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata…” (QS Az-Zukhruf 43:71) Dengan menghindari mengumbar pada kehidupan duniawi ini, Allah memberkahi orang-orang beriman dengan apa yang mereka inginkan di akhirat kelak.
  4. Jika ketiga hal tersebut terdapat di dalam diri seseorang, hati yang tidak merasa takut, jiwa yang tidak merasa puas, dan ilmu yang tidak bermanfaat, semuanya akan bermara pada hal keempat yang kita mohon perlindungan dari-Nya; doa yang tidak terkabul. Mengapa? Untuk sebuah doa terkabul/terjawab, seseorang harus lah menjadi pribadi yang sederhana dan hanya menunjukan keinginannya kepada Allah. Seseorang yang hatinya tidak merasakan ketakutan kepada Allah memiliki jiwa yang keras, dan yang tidak merasa puas akan merasakan kedengkian.
  5. “Doa yang tidak terjawab.”: Tidak mempunyai doa yang tidak dikabulkan oleh Allah merupakan sesuatu yang sangat menerikan. Allah SWT memberi tahu kita untuk terus meminta kepada-Nya, memohon kepada-Nya, dan Allah akan memberikan kepada kita. Jika Allah SWT tidak mengabulkan doa-doa kita, itu berarti seseorang terlibat dalam sebuah kesalahan. Dalam sebuah hadits, orang yang makan, minum, dan berpakaian haram, doanya tidak akan terkabul.
  6. Juga kita harus ingat, bahwa doa akan dijawab dalam tiga cara. Allah akan mengabulkan doa pada apa yang dia minta, atau seseorang akan dilindungi pada sesuatu yang berbahaya, atau Allah akan merespon doa tersebut di akhirat kelak. Jadi kita harus terus memohon perlindungan dari Allah.
(diterjemahkan dari : http://muslimmatters.org/2011/08/04/ramadan-supplication-series-seeking-refuge-from-four-things/)]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *