syaamilquran.com – Pesan-Pesan Ramadhan
Oleh: Khalid Baig.
Kita memperingati Ramadhan setiap tahunnya. Pertanyaannya adalah, apakah kita benar-benar menyimaknya?
[caption id="attachment_3530" align="aligncenter" width="387"]
Pesan-Pesan Ramadhan[/caption]
Ramadhan merupakan bulan terpenting di kalender Islam. Ramadhan merupakan hadiah yang luar biasa dari Allah SWT. Pada saat kita merasa sedang jatuh dan terperosok, Ramadhan bisa mengangkat kita, menguatkan kita, dan mengganti situasi sekitar kita—baik itu secara individu atau kelompok. Ramadhan merupakan musim semi untuk Islam di saat rumput yang kering tumbuh hidup dan bunga-bunga bemekaran. Tetapi manfaat-manfaat ini tidak sekedar dijanjikan jika kita hanya melakukan ritual kosong. Berkah Ramadhan akan menjadi miliki kita jika tingkah laku kita seolah diberikan sebuah informasi oleh pesan-pesan khusus Ramadhan.
Di zaman sekarang, pesan dan makna Ramadhan seolah tenggelam karena kerasnya pesan dari budaya pop dan juga pesan-pesan yang bertolak belakang yang disampaikannya. Kita menjadi semakin terbiasa oleh budaya pop, dan banyak dari kita seolah diperbudak oleh budaya pop bahkan pada saat Ramadhan.
Pesan dan makna terpenting dari Ramadhan ialah, bahwa kita bukan sekedar jasad, tetapi juga jasad dan jiwa. Sejauh ini, hal-hal yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya dan menentukan nilai-nilai kemanusiaan adalah jiwanya, dan bukan jasadnya. Selama Ramadhan, kita menghilangkan unsur jasad untuk mengangkat jiwa kita. Hal-hal ini merupakan hal yang sederhana dan familiar. Tetapi kita bisa memahami pentingnya hal-hal tersebut, jika kita mengingat bahwa pesan-pesan yang disampaikan oleh budaya pop global materialistis dan hedonistis yang telah melahap orang-orang Muslim sekarang ini – bahwa pesan yang disampaikan oleh mereka adalah pesan yang bertolak belakang dengan pesan Islami. Mereka mengatakan bahwa jasad adalah segalanya, hal tersebut lah yang menjadi pertimbangan pada dunia materialistis. Kebahagiaan terbesar – dalam konteks yang tidak baik – adalah memasukan banyak nafsu kepada tubuh kita. Pesan-pesan ini memproduksi banyak sekali hasrat dan mengakibatkan terjadinya perang yang tidak berkesudahan untuk mengisi hasrat yang tidak berkesudahan tersebut melalui eksploitasi yang tidak berkesudahan. Pesan-pesan tersebut memproduksi frustrasi yang tidak berkesudahan karena adanya rongga antara hasrat dan pencapaian yang tidak bisa dipenuhi. Pesan-pesan tersebut menghasilkan kekacauan yang tidak berkesudahan dan juga penindasan yang tidak berkesudahan. Namun sampah-sampah budaya ini bahkan datang dengan pengemasan yang indah dan juga menarik yang membuat kita sangat sulit menolaknya. Kita menyamakan hal-hal ini dengan kebebasan. Kita menganggap pawai kebinasaan ini sebagai kemajuan. Dan dalam setiap pergerakannya, kita semakin jauh dan terperosok ke dalam lubang.
Ramadhan datang untuk membebaskan kita dari hal-hal tersebut. Di sini terdapat pesan yang luar biasa untuk mengingatkan kita untuk memasukan jiwa kita ke dalam jasad. Beristirahat dari budaya pop. Matikan musik dan juga TV. Katakan selamat tinggal untuk kebahagiaan yang sia-sia demi kepuasan sensorik kita. Temukan kembali dirimu sendiri yang selama ini terkubur. Ubah arah hidup dirimu. Curahkan waktumu untuk membaca Al-Qur’an, dengan sukarela beribadah, dan melakukan percakapan dengan Allah SWT. Renungkanlah arah hidupmu dan prioritas hidup. Renungkan dan perkuat hubunganmu dengan Penciptamu.
Pada hari terakhir di bulan Syaban, Nabi Muhammad SAW, memberikan Khutbah tentang datangnya Ramadhan. Khutbah ini sangat penting dan kita harus menyimak dengan baik sebelum Ramadhan untuk mempersiapkan mental kita pada bulan yang suci ini. “Wahai manusia! Telah dekat bulan yang agung untukmu. Bulan yang penuh berkah. Bulan di mana satu malam lebih baik dari seribu bulan. Bulan di mana Allah mewajibkan atas dirimu untuk berpuasa pada siang hari, dan berdoa juga beribadah pada malam hari (sunnah). Siapa pun yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amal baik secara ikhlas di bulan ini (amalah sunnah), niscaya akan mendapatkan pahala seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barang siapa yang melakukan amalan fardhu di bulan ini, niscaya akan mendapatkan pahala seperti melakukan 70 amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Ramadhan merupakan bulan Kesabaran, dan pahala dari kesabaran adalah Surga. Bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan kesimpatian (satu rasa) terhadap sesama. Dan bulan ini merupakan bulan di mana dimana rizki orang-orang yang beriman ditambah. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa.”
Hadits tersebut memiliki banyak sekali pesan yang penting. Terutama pada dua hal yang akan disorot. Pertama, Ramadhan adalah bulan kesabaran. Kesabaran tidak harus berarti sabar dan ketekunan dalam menghadapi kesulitan, tetapi juga ketabahan dalam menghindari dosa-dosa dalam menghadapi godaan dan selalu gigih dalam melaksanakan kebajikan sekali pun itu tidak mudah. Mengatasi lapar dan dahaga selama berpuasa merupakan bagian dari kesabaran, tetapi hal-hal seperti menjaga pandangan, pendengaran, pikiran, lisan, tangan, dll dari seluruh dosa merupakan hal yang sama pentingnya atau bahkan lebih penting. Maka dari itu, tekun lah dalam melaksanakan amalan baik sebanyak mungkin, meskipun banyak sekali kendala eksternal maupun internal. Ramadhan membutuhkan kesabaran yang utuh dan juga menyediakan pelatihan berkualitas yang sangat penting untuk dikembangkan dan dipelihara. Kesabaran adalah resep untuk perbaikan lengkap terhadap hidup kita, bukan hanya sekedar penyesuaian kecil terkait waktu makan.
Poin tertinggi Ramadhan adalah itikaf, yang merupakan amal ibadah di mana seseorang bermalam di masjid untuk mengabdikan waktunya untuk beribadah dan mengingat Allah. Beberapa komunitas Muslim bahkan mewajibkan pergi ke masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan. Yang lainnya seharusnya menyerap semangat itikaf dan melakukannya sebisa mereka.
Tetapi kita harus bisa membedakan antara keinginan duniawi dan tanggung jawab duniawi. Syedna Abdullan bin Abbas, Radi-Allahu anhu, melaksanakan itikaf, saat seseorang datang dan duduk diam. Karena Beliau merasakan kondisinya yang tertekan, Ibnu Abbas bertanya soal kondisinya. Tindakan ini tidak membatalkan itikaf, justru memberikan riasan pada kewajiban yang dilakukan. Orang tersebut merasa bersyukur dan bertanya-tanya mengapa Ibnu Abbas melakukannya. Dan Ibnu Abbas menjelaskan tindakannya, dan menghubungkan dengan hadits tentang orang yang berusaha untuk membantu saudaranya, dia akan mendapatkan pahala seperti melakukan itikaf 10 tahun.
Hal ini membawa kita kepada pernyataan kedua yang harus kita cermati: Ramadhan adalah bulan kedermawanan dan simpati. Dengan banyaknya penderitaan yang terjadi di dunia sekarang ini, kebutuhan untuk terus mengingat pesan-pesan Ramadhan tidak bisa dibesar-besarkan seperti dulu. Sayang sekali, di zaman sekarang, pemandangan lain justru mendominasi sebagian besar dunia Muslim sekarang ini. Ramadhan merupakan bulan untuk bersuka cita, berbelanja, bersenang-senang saat berbuka puasa di restoran mewah, hiburan, dan gossip. Setiap orang bangun di saat malam tetapi tidak untuk beribadah; dan sebagian orang malah menonton TV atau cuci mata pada bazaar-bazaar.
Ramadhan kali ini rupanya lebih seperti bulan perayaan ketimbang bulan puasa. Tetapi tidak ada yang bisa mengambil Ramadhan dari kita, kita lah yang menjauhkan diri kita dari Ramadhan. Dan saat kita memahami dan menyadari kesalahan yang kita lakukan, kita bisa membawa Ramadhan kembali pada kita. (diterjemahkan dari : http://muslimmatters.org/2011/08/01/the-message-of-ramadan/)
]]>