Syaamil Quran

Mukjizat Al Quran (2): Kebenarannya Terbukti secara Ilmiah

syaamilquran.com – Mukjizat Al Quran (2): Kebenarannya Terbukti secara Ilmiah – Selain dari segi kebahasaannya, mukjizat dan keajaiban Al Qur’an pun terbukti kebenarannya secara ilmiah. Para ilmuwan yang mendapatkan hidayah dan pertolongan dari Allah, mau tak mau mengakui bahwa Al Qur’an tidak mungkin diciptakan manusia. Kisah-kisah pembuktikan itu diantaranya adalah sebagai berikut.

[caption id="attachment_1900" align="aligncenter" width="423"]Mukjizat Al Quran (2): Kebenarannya Terbukti secara Ilmiah Mukjizat Al Quran (2): Kebenarannya Terbukti secara Ilmiah[/caption]

1. Al Qur’an memuat berita-berita dan janji masa depan. Kejadian masa depan adalah sesuatu yang di luar kekuasaan manusia untuk mengetahuinya. Meskipun banyak terdapat orang-orang yang mengaku dapat mengetahui masa depan, belum tentu dapat terbukti kebenarannya. Namun, Al Qur’an menjamin berita-berita tersebut benar-benar akan terjadi, dan memang benar terjadi adanya.

Kaum musyrikin Mekah, sebelum hijrah, menantang kaum muslimin dan mengatakan: ”Bangsa Rum yang memiliki kitab Injil telah dikalahkan oleh orang Persia (kaum Majusi), maka kami pasti akan mengalahkan kamu, karena kamu adalah ahli kitab pula.”

Maka, Allah menjawab melalui surat ar-ruum ayat 2-3: ”Telah dikalahkan kerajaan Rum (Romawi) di negeri yang terdekat dan mereka sesudah kalah itu akan menang lagi dalam beberapa tahun”. Pada saat turunnya ayat ini, kondisi Rum sangat lemah dan mustahil bangkit kembali. Tetapi apa yang diberitakan Al Qur’an telah menjadi kenyataan dalam beberapa tahun kemudian.

2. Beberapa fakta ilmiah yang tidak mungkin dipelajari dan diketahui manusia di tanah Arab pada waktu itu, tetapi dapat dijelaskan dengan tepat dan diakui kebenarannya pada abad modern ini. Di antara pembuktian-pembuktian itu adalah:

  • Edwin Hubble, astronom AS menemukan fakta bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauh. Alam semesta, ketika segala sesuatunya bergerak saling menjauh, berarti alam semesta tersebut ’mengembang’. Hal itu  sebagaimana tertulis di dalam Al Qur’an yang turun berabad-abad yang silam. ”Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami  dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya” (Q.S. adz-Dzaariyat [51]: 47). Penemuan itu ia dapatkan saat mengamati langit dengan teleskop pada tahun 1929.
  • Captain Jacques Yves Costeau, ahli Oceanografi dan ahli selam terkemuka Perancis, pembawa acara TV ’Discovery Channel’, menemukan pembuktian Surat ar-Rahman ayat 19-20 pada saat ia melakukan eksplorasi bawah laut. Ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut asin di sekelilingnya, seolah-olah antara kedua jenis air tersebut ada dinding atau membran yang membatasi. Costeau terus berusaha menemukan jawabannya, tetapi ia bahkan meragukan penemuannya sendiri.  Ia mengira penemuannya hanyalah halusinasi.

Suatu ketika, ia bertemu dengan seorang profesor muslim, dan menceritakan fenomena ganjil tersebut. Sang profesor teringat ayat Al Qur’an tentang bertemunya dua lautan, yang saat itu sering diidentikan dengan terusan Suez, “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”.

Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat, La yabghiyan maksudnya adalah masing-masing tidak saling menghendaki. Artinya dua laut yang keduanya terpisah karena dibatasi tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan) sehingga pada akhirnya tanah genting itu dibuang. Maka bertemulah dua lautan seperti terusan Suez dan Panama. Sang profesor muslim juga membacakan surat Al-Furqan ayat 53, “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”.

Ayat tersebut memesona Costeau dan muncul keyakinan dalam hatinya bahwa Al Qur’an mustahil disusun manusia, termasuk Muhammad saw sekali pun. Muhammad saw hidup pada abad ke tujuh, tak ada teknologi selam yang canggih saat itu untuk mencapai kedalaman samudera yang telah dapat dicapainya pada abad ke-20. Akalnya terbuka, jiwa dan fitrahnya tergetar akan kebenaran wahyu Ilahi. Costeau dengan ikhlas akhirnya memeluk agama Islam. *** (syaamilquran.com/ sumber: 10 Bersaudara Bintang Al Qur’an. Arkanleema)

]]>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *