“Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). Bukankah telah Kami binasakan orang-orang yang dahulu? Lalu Kami susulkan (azab Kami terhadap) orang-orang yang datang kemudian. Demikianlah Kami perlakukan orang-orang yang berdosa. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).”( QS Al Mursalat: 15-19)
Salah satu kesalahan yang lazim terjadi dalam lingkungan masyarakat yang acuh adalah bahwa dosa seseorang dapat ditimbunkan kepada orang lain. Misalnya, seseorang dapat mencegah temannya dari memikul tanggung jawab keagamaan dan berkata, “Aku akan menerima dosa itu untuk diriku.”Tentu saja orang tersebut akan melakukan dosa untuk mencegah melakukan sesuatu tanggung jawab, namun temannya tetap saja melakukan dosa karena tidak melakukan tanggung jawab itu. Dengan kata lain, tidak ada satu orang pun yang dapat memikul dosa dari pundak orang lain.
Pada hari Kebangkitan, manusia akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Tidak ada satu orang pun yang memikul dosa orang lain. Allah memerintahkan Rasulullah saw. untuk menjelaskan hal ini dalam salah satu ayatnya sebagai berikut.

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuat-an dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukanNya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (QS Al An’am: 164).
Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut. “Tidak ada jiwa yang terbebani yang akan memikul beban orang lain.”
(dikutip dari Harun Yahya. Seri Insan Teladan Sepanjang Zaman: Nabi Muhammad saw., 2006)
]]>