Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kebersihan, tidak hanya kebersihan batiniah, tetapi juga kebersihan lahiriah (fisik). Dalam Al Quran serta hadits Rasulullah saw. bertebaran perintah, langsung maupun tidak langsung, yang memerintahkan seorang muslim untuk senantiasa menjaga kebersihan.
Salah satu hadits yang terkait dengan hal itu adalah sebagai berikut.
“Bersihkanlah dirimu karena sesungguhnya Islam itu bersih.” (Riwayat Ibnu Hibban).
Kebersihan bahkan merupakan salah satu prasyarat dari hadirnya cinta Allah Swt. kepada seorang hamba, ”Innallâha yuhibbul mutathahirîna; sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya.”
Bagian tubuh manusia yang sangat diperhatian Islam untuk dibersihkan adalah kulit. Kulit dapat diibaratkan sebagai kertas pembungkus ajaib yang memiliki kemampuan melindungi tubuh dari mikroorganisme penyebab penyakit. Jika tubuh dianggap sebagai kastil yang dikepung musuh, kita bisa menyebut kulit sebagai dinding kastil yang kuat.
Wudu merupakan salah satu mekanisme canggih yang Allah Swt. tetapkan atas orang beriman untuk menjaga kebersihan kulit ini. Apabila ada najis atau kotoran yang menempel pada kulit, ibadah shalat yang dilaksanakan bisa menjadi batal. Itulah mengapa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk berwudu menjelang shalat. Penemuan-penemuan ilmiah terbaru semakin menguatkan pandangan bahwa wudu sangat efektif untuk menjaga kesehatan kulit manusia.
Kalau kita perhatikan, anggota badan yang dibasuh ketika berwudu adalah anggota badan kita yang terbuka dan sangat rentan didatangi kuman, yaitu bagian kepala, muka, tangan, dan kaki.
Menurut ilmu bacteria (mikrobakteriology), 1 cm persegi dari kulit kita yang terbuka bisa dihinggapi lebih lima juta bakteri yang bermacam-macam. Bakteri ini perkembangannya sangat cepat dan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangannya adalah keseimbangan asam-basa (pH). PH permukaan kulit sangat berperan dalam memproteksi tubuh dan membatasi perkembangan kuman yang akan menimbulkan penyakit.
Pada kulit kita yang terdiri dari epidermis—lapisan terluar yang mengadakan kontak langsung dengan lingkaran luar—itu terdapat sel tanduk (stratum korneum) yang selalu mengalami penggantian dan pembuangan sel-sel kulit mati pada stratum korneum. Kadang-kadang, sel-sel kulit yang mati mengelupas itu akan menyumbat pori-pori yang juga bermuara pada lapisan epidermis. Hal inilah yang dapat menimbulkan penyakit pada kulit. Ketika berwudu, sebagian air wudu akan diserap untuk kelembaban kulit, sebagian akan terjebak di antara lapisan epidermis dan sel kulit mati, dan sebagian lagi akan terbuang.
Air yang terbuang akan membawa kotoran-kotoran yang menempel di kulit, sedangkan air yang terjebak di lapisan epidermis akan menempel di sana untuk jangka waktu beberapa menit, untuk kemudian terbuang sambil membawa sel-sel kulit yang mati. Dengan demikian, wudu akan membantu membuang kotoran-kotoran, sisa-sisa sel kulit yang mati, dan meminimalisasi jumlah kuman pada permukaan kulit sehingga keseimbangan pH dan kelembaban akan terkoreksi kembali dan diharapkan kembali normal.
Memelihara Bakteri Baik di Kulit
Bakteri yang menempel di kulit kita ada beberapa jenisnya, yaitu bakteri yang bersifat simbiotik mutualisme (keberadaannya membantu kulit, misalnya dalam sistem pertahanan tubuh), bakteri simbiotik komensalisme (keberadaannya), dan yang patogen potensial (opportunistic, kuman yang akan menimbulkan penyakit). Kuman-kuman inilah yang dikenal dengan flora normal kulit.
Ada sebuah penelitian menarik yang dilakukan Dr. Martin Palzer dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature tahun 2006 tentang kehidupan bakteri-bakteri ini. Terungkap bahwa di permukaan kulit kita, khususnya tangan, kaki, daerah muka, dan kepala yang biasa kita basuh dengan air wudu, hidup dan berkembang biak sekitar 182 sampai 250 spesies bakteri.
Satu spesies bisa terbagi-bagi lagi menjadi puluhan, ratusan, bahkan ribuan jenis. Satu jenis bisa beranggotakan puluhan juta bakteri. Jangan heran jika dalam tubuh kita terdapat miliaran bakteri. Sebagian besar dari mereka adalah bakteri “baik” yang menjadi bagian penting dari sistem pertahanan tubuh manusia. Tanpa kehadiran bakteri-bakteri tersebut, manusia menjadi mudah sakit.
Oleh karena itu, Dr. Palzer menyarankan agar kita tidak mencuci tangan menggunakan sabun. Terlalu banyak menggunakan sabun serta antiseptik yang tidak selektif bisa memusnahkan koloni-koloni bakteri dalam tubuh. Hancurnya komunitas mereka sama artinya dengan menghancurkan sebagian lapisan pertahanan tubuh kita.
Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk membasuh tangan, kaki, muka, mulut, dan bagian kepala ketika berwudu. Salah satu hikmahnya berwudu kita “menyirami” dan “memberi makan” bakteri-bakteri baik agar tumbuh dan berkembang. Seperti halnya tanaman yang perlu disiram, bakteri-bakteri itu pun membutuhkan air sebagai media untuk bisa menjaga keberlangsungan hidupnya.
]]>