Syaamil Quran

Mana yang Benar?

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang laki-laki bernama Lukmanul Hakim. Dia dikenal sebagai orang yang bijaksana. Dia sering memberi nasihat yang baik kepada anak-anaknya.

Suatu hari, Lukmanul Hakim pergi ke pasar bersama anaknya. Lukman menunggang seekor keledai, sementara anaknya berjalan di belakangnya. Apa yang kemudian terjadi? Orang-orang di pasar mencela Lukman.

“Lihat, tega sekali orang itu! Dia enak-enak naik keledai, sementara anaknya disuruh berjalan kaki,” kata orang-orang itu.

Mendengar komentar itu, Lukman tun turun dari tunggangannya dan menyuruh anaknya  naik ke atas keledai. Lukmanlah yang berjalan kaki di belakang anaknya. Namun, apa yang terjadi. Ternyata, orang-orang di pasar tidak berhenti berkomentar.

“Lihat, tidak sopan sekali anak itu. Dia menunggang keledai, sementara ayahnya dibiarkan kelelahan berjalan di belakangnya,” demikian kata mereka.

Betapa tidak enaknya hati Lukman mendengar komentar itu. Dia pun memutuskan menunggangi keledai berdua anaknya. Apakah komentar orang-orang di pasar berhenti. Ternyata tidak. Mereka terus mencela Lukman.

“Lihat, tega sekali kedua orang itu menaiki seekor keledai. Hewan itu pasti sangat menderikta.”

Mendengar komentar itu, Lukman dan anaknya segera turun dari keledai. Keduanya lalu berjalan kaki sambil menuntut keledainya. Ternyata orang-orang di pasar masih menertawakan mereka. “Lihat, bodaoh sekali kedua orang itu! Mereka membawa seekor keledai, tapi tidak ditunggangi,” kata mereka lagi.

Dalam perjalanan pulang, Lukman menasihati anaknya,

“Nak, peristiwa hari ini adalah pelajaran yang harus engkau perhatikan. Jangan melakukan sesuatu karena komentar atau perkataan orang lain. Hal itu akan membuat kita tidak ikhlas. Hidup kita akan terasa melelahkan, karena terus-terusan ingin menjadi seperti apa yang dikatakan orang. Oleh karena itu, lakukanlah sesuatu hanya karena Allah. Pertebal imanmu karena hal itu akan membuat hidup kite tenang dan damai. Allah pun akan ridha kepada kita.

***

Hidup jadi melelahkan kalau kita melakukan sesuatu karena komentar orang lain, bukan Karen Allah. Kita akan sibuk melakukan apa yang diucapkan orang lain karena ingin selalu terlihat hebat di mata mereka. 

(dikutip dari Ariany Syurfah. Super Stories. Arkanleema. 2009)

]]>

1 thought on “Mana yang Benar?”

  1. Arif Darmawan Setianto

    Trima kasih sudah di share.. tadi siang saya dengar nasihat ini di khutbah jumat… izinkan saya share di FB ya… 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *