Suatu ketika, Nabi Musa melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan seorang fakir. Keadaannya sangat menyedihkan. Tubuhnya terlihat sangat kurus karena kurang makan. Dia tidur di atas padang pasir tanpa selembar pakaian pun.
Nabi Musa merasa sangat kasihan kepadanya. Beliau sempat berpikir tentang keputusan Allah atas orang fakir itu. Beliau merenung. Mengapa Allah tidak kasihan terhadap laki-laki fakir itu, ya?
Nabi Musa lalu mendekati orang fakir itu. Laki-laki itu terbangun. Dia segera mengenali Nabi Musa.
“Wahai, Nabi, tolonglah aku! Berdoalah untukku agar Allah memberiku sedikit rezeki sehingga aku bisa terbebas dari kemiskinan ini,” pintanya.
Nabi Musa pun segera memanjatkan doa kepada Allah. Setelah selesai, beliau melanjutkan perjalanan ke adah gunung.
Beberapa hari kemudian, Nabi Musa pun turun dari gunung dan melewati tempat dia menemui laki-laki fakir itu. Nabi Musa sangat terkejut ketika melihat laki-laki itu dalam keadaan terikat dan dikelilingi banyak orang.
“Apa yang terjadi? Mengapa laki-laki itu diikat,” tanya Nabi Musa.
Orang-orang yang mengelilingi si fakir menjawab,
“Dia ini dulu seorang fakir. Allah kemudia memberiknya rezeki. Namun, dia menggunakannya untuk membeli minuman keras dan mabuk-mabukkan. Dalam keadaan mabuk, dia membunuh seeorang. Itulah sebabnya kami menangkapnya dan akan mengadilinya.
Nabi Musa kini paham dengan keputusan yang Allah berikan kepada laki-laki fakir itu. Nabi Musa mengerti bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hambaNya.
***
Allah tidak pernah bermaksud buruh kepada hamba-Nya. Setiap keputusan yang Allah berikan, baik atau buruk, pasti menyimpan sebuah hikmah dan kebaikan di dalamnya.
(dikutip Ariany Syurfah. Super Stories. Arkanleema. 2009)
]]>