syaamiquran.com – Menjadi Pribadi Rabbani – “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS Ali ‘Imran 3:79)
[caption id="attachment_3649" align="aligncenter" width="300"]
Menjadi Pribadi Rabbani[/caption]
Jadilah pribadi rabbani. Nah, apa itu Rabbani? Salah satu tafsir paling menarik tentang kata Rabbani dalam ayat ini, justru datang dari salah satu tokoh yang paling dirujuk dalam Ilmu Tafsir, Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari. Dalam Jami’ul Bayaan fii Ta’wilil Quraan, Beliau menyebutkan lima hal yang harus dimiliki oleh seseorang Rabbani.
- ‘Alim dan Mutsaqqaf
Seorang Rabbani haruslah seorang berilmu dan berwawasan. Ada semangat belajar yang kuat di dalam dirinya. Ia digerakkan oleh Rabb yang mentarbiyah manusia dengan perantara pena. Ia bergema oleh ayat pertama Iqra’, agar ia tak sekadar membaca kalam-Nya di mushaf dan semesta, tapi memulainya dengan menyebut asma Rabbnya yang telah menciptakan. Agar ia tak hanya menulis, tetapi juga memberikan pencerahan. Agar ia tak sekadar menyusun huruf dan kalimat, tetapi juga merajut benang-benang warna menjadi sebuah corak achaya.
Ilmu apa yang wajib dipelajari? Ilmu Allah. Soal dikotomi duniawi-ukhrawi, Imam Al-Ghazali berpendapat, “Boleh jadi fiqh itu ilmu duniawi. Dan boleh jadi kedokteran dan ilmu pertekstilan adalah ilmu akhirat.”
Bagaimana logikanya? Mungkin memperhatikan kondisi zamannya, Al Ghazali mengambil contoh pembahasan tentang zhihar. Ketika seorang suami mengucapkan, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku!” pada isterinya. Di masa jahiliah status isteri jadi tak jelas. Tapi di masa Islam, zhihar jelas ketentuannya di Surat Al Mujaadilah. Pembahasan berpelik-pelik, kalau begini, kalau begitu, yang dilakukan para ahli fiqh di masa itu bagi Al Ghazali, hanyalah untuk mencari keuntungan duniawi.
Tapi sebaliknya, Beliau melihat betapa minimnya dokter Muslim saat itu. Sehingga ketika seseorang berpenyakit pencernaan sementara esok hari bulan Ramadhan tiba, kaum Muslimin beramai-ramai meminta fatwa dokter Yahudi dan Nashrani. Ini ilmu akhirat, jangan sampai diserahkan pada seorang yang bukan Muslim.
Nah demikian juga ilmu tekstil. Jika untuk menutup ‘aurat-nya seorang Muslim menyerahkan jenis kain, model jahitan, dan trendnya pada yang bukan Muslim sehingga ‘aurat tak tertutup sempurna, siapa yang berdosa? Semua.
- Faqih
Apa bedanya ‘Alim dengan Faqih? Dalam kata-kata Imam Asy Syafi’I, “Kalian, para ahli hadits, adalah apoteker. Kami, para ahli fiqh, adalah dokter.” Apoteker punya ilmu tentang obat, tetapi tidak memahami kondisi pasien. Dan oleh karena itu, dia tak memiliki otoritas menentukan terapi bagi kesembuhan mereka. Demikian pula bagi Imam Asy Syafi’I, berpegang hanya pada teks seperti lazimnya Ahli Hadits berbuat akan membuat repot pasien, yakni ummat. Diperlukan seorang dokter, seorang Faqih, yang dengan keluasan wawasan, pemahaman terhadap kondisi, mengetahui seluk beluk organ dan interaksi kimianya, bisa merumuskan satu resep, satu fatwa yang tepat.
Seorang yang Rabbani, mencoba untuk melihat apa yang ada di balik sesuatu, mendengarkan yang tak terucapkan, dan menilai dari berbagai sisi yang tak selalu linear. Seorang ‘Alim mungkin saja lahir dari ruang berisik buku-buku, tetapi seorang Faqih muncul di tengah orang ramai yang menghadapi banyak persoalan.
- Al Bashirah bis Siyasah
Seorang yang Rabbani, memiliki kedalaman pandangan tentang politik. Politik Islam adalah seni mengelola urusan publik agar manusia merasa indah beribadah dan mampu menjadikan setiap aktivitas mereka sebagai ibadah. Dia mampu mengelolah sebuah kebijakan yang membuat orang kaya merasa terjamin hartanya dan gembira menunaikan kewajibannya. Kebijakan itu membuat orang miskin merasa tenteram sekaligus bersemangat dalam etos kerja.
- Al Bashirah bit Tadbir
Seorang yang Rabbani juga memiliki kedalaman pandangan dalam hal manajemen. Dia tahu bagaimana menempatkan suatu sumber daya pada posisi yang tepat. Didasari hal inilah, mungkin Rasulullah tak pernah mengangkat ‘Umar ibn Al-Khathtab menjadi komandan satuan pasukan besar. Bukan dia tak mampu. Tetapi model seperti ‘Umar akan mementingkan mencari kematian syahadah daripada kemenangan pasukan yang dipimpinnya. Khalid ibn Al Walid berbeda. Saat dipecat dari kedudukan sebagai panglima ia berujar, “Kini aku bebas mencari kematian. Kemaarin ketika menjadi panglima, tentu kupikirkan pasukanku. Kini aku berpikir tentang diriku sendiri, dan ia merindukan surga. “ Kalau bukan karena dia panglima, Khalid mungkin tak perlu mematahkan sampai 13 bilah pedang dalam perang Mut’ah.
Demikian juga, pandanagn tajam manajerial Nabi membuat beliau langsung menunjuk ‘Amr ibn Al ‘Ash beberapa saat sesudah dia masuk Islam untuk menjadi komandan satuan yang di dalamnya bergabung para shahabat senior termasuk Abu Bakr dan ‘Umar. Malamnya, saat mereka berkemah, tiba-tiba ‘Amr memerintahkan semua memadamkan api.
‘Umar tersingung. Terlihat olehnya pasukan itu kedinginan, dan beberapa yang lain sedang memasak makanan. “Tidak, jangan matikan apinya!”, seru ‘Umar. Abu Bakr yang aad di sampingnya langsung menegur, “Wahai ‘Umar, dia pemimpin yang ditunjuk Rasulullah untuk kita. Taatlah paad Allah, Rasulnya, dan pemimpinmu!” ‘Umar masih menggerutu. Tetapi beberapa saat kemudian dia menyadari ‘Amr benar. Bunyi ringkik dan tapak kaki kuda patrol musuh, ratusan agaknya, terdengar begitu mengerikan. Tetapi kafilah patrol itu lewat saja. Maka Abu Bakr pun tersenyum padanya.
Hari berikutnya, ‘Amr memerintahkan pasukannya berhenti di luar perkampungan kabilah yang akan diserang. “Aku akan masuk. Jika aku tak kembali hingga mentari tergelincir, kalian serbulah ke dalam!” ‘Umar protes lagi. “Jika kau ingin syahid, kami semua juga! Tetaplah kita bersama!” Dengan lirikan, kembali Abu Bakr mengingatkan ‘Umar. Dan ‘Umar pun patuh. Beberapa waktu kemudian, ‘Amr telah kembali bersama pemimpin kabilah yang telah masuk Islam bersama pengikutnya, atas diplomasi ‘Amr. Kabilah itu tunduk, tanpa setetes darah pun tertumpah. Seandainya jadi Abu Bakr mungkin saat itu kita akan berkata pada ‘Umar, “Nah. Gua bilang juga apa?”
5. Al Qiyam bis Su-unir Ra’iyah li Mashlahatid Dunyaa wad diin
Poin ini adalah implementasi dari poin ketiga dan keempat. Kata kuncinya adalah kepedulian pada kepentingan public. Seorang yang Rabbani memiliki peran dalam menegakkan kepentingan masyarakat banyak dalam kerangka kebaikan dunia dan agama. Ada advokasi, ada penyantunan, ada pelayanan, ada peningkatan kesejahteraan, dan ada kebijakan yang membuka peluang-peluang kebaikan.
Itulah orang-orang Rabbani.
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS Al-Hajj 22:41)
(dikutip dari buku Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim – Salim A. Fillah)
]]>